Showing posts with label Dunia Wanita. Show all posts
Showing posts with label Dunia Wanita. Show all posts

Thursday, August 17, 2017

Masker Putih Telur Untuk Wajah Berjerawat

11:41 AM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Merdeka!!!!
Dirgahayu Indonesia!!!
Sudah pulang dari upacara kemerdekaan? Sudah donk ya... Sudah genap 72 tahun Indonesia merdeka, semoga bangsa ini mampu menjadi lebih baik melalui tangan-tangan para pemimpin dan semoga setiap dari kita menyadari akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang bersedia meluangkan waktu untuk mengabdi dan memajukan bangsa ini sesuai bidangnya. Yang jadi guru ya bagaimana bisa ikhlas lillahita'ala mendidik dan menyumbangkan ilmunya buat anak didiknya, yang jadi dokter ya bagaimana bisa meluruskan niat untuk menolong sesama dalam hal kesehatan, yang masih kuliah/sekolah terus belajar dan mengisi masa muda dengan hal bermanfaat, yang jadi petani dan pengusaha terus berjuang meningkatkan kualitas pangan dan produk agar mampu bersaing dengan hasil impor, dan lain sebagainya. Intinya mah kita harus buang rasa malas demi terwujudnya kondisi ideal di setiap lini kehidupan bersosial.

Ngomongin masalah malas nih, saya termasuk satu diantara beberapa orang yang malas untuk hal-hal tertentu, termasuk dalam hal antri perawatan wajah 😃 Sudah beberapa bulan ini gel dan krim wajah dari dokter punya saya habis dan sepertinya saya belum berkeinginan untuk melanjutkan atau pindah krim ke dokter lain. Alasannya cukup klasik, dari dulu ituuuu aja alesannya *lagu lama gitu lah 😂, saya ini paling males antri buat konsul ataupun melakukan treatment lain. Boro-boro treatment macem-macem, antri buat facial sama beli krim aja malesnya bujubuneng, tepok jidat deh sayahnya 😜 Makanya sempet ngerasain euforia pas salah satu temen dokter kerja di klinik kecantikan, karena bisa pesen krim wajah tanpa harus ngantri, heolll....😁 dan kemudian euforia itu hilang sesaat setelah sang teman resign demi usaha barunya, hiks... Padahal ya, dari 4 krim dokter sebelumnya, saya paling cocok pake yang terakhir itu, dari klinik T***. Gak ada penipisan atau pengelupasan kulit, warna kulit juga tetap putih meski dibawah terik matahari, beda sama krim-krim lain yang bikin kulit tipis dan berwarna merah bak kepiting rebus 😈 Yang bikin saya jadi inget wajah saya antara tahun 2008 - 2011, dulu saya sampe gak berani berpanas-panas ria demi tetep kinclong. Sekarang? udah lupa tuh 😂 I don't wanna feel that pain anymore 😎. Tapi ya...begitulah hidup, berputar, sehingga saya pun memutuskan stop dan make krim wajah pabrikan aja yang gak bikin  ketergantungan. Benar sih memang setelah beberapa bulan gak pake krim wajah yang biasanya, kulit wajah jadi agak kusem, gak bisa se-cling biasanya, namun setidaknya saya sudah menghindari ketergantungan pemakaian krim dalam jangka panjang. 

Setelah tidak menggunakan krim-krim itu lagi, salah satu cara untuk menjaga agar jerawat gak macam jamur di musim hujan, maka sesekali saya make masker. Tapi masker wajahnya bukan masker wajah beli di toko loh, karena kulit wajah saya ini cenderung sensitif, gampang berjerawat tapi susah ilangnya, belum lagi flek hitam yang mulai muncul lagi sejak tidak make krim, bikin ati narik nafas panjang dan berat  *lebay yah saya 😃 Masker yang saya pake adalah masker putih telur. Ada beberapa macam masker yang dibuat dari putih telur seperti masker untuk mencerahkan wajah, menghilangkan jerawat dsb.


Kenapa memilih putih telur? Karena kandungan zat dalam putih telur dipercaya mampu menyembuhkan jerawat. Diantaranya zat-zat tersebut adalah:
  • Protein. Protein dalam telur dipercaya dapat meningkatkan elastisitas dan mencerahkan kulit wajah
  • Kolagen. Salah satu kandungan zat dalam putih telur adalah kolagen, zat yang banyak ditawarkan oleh produk-produk kecantikan di pasaran karena kolagen dapat membantu mengatasi garis halus dan kerutan
  • Magnesium. Selain kolagen, magnesium juga mempunyai manfaat yang besar untuk kulit wajah, karena magnesium mampu menghambat proses penuaan dini. Dan zat ini menjadi salah satu poin penting untuk mempertimbangkan penggunaan masker dari putih telur ini
  • Kalium. Kalium dalam putih telur bermanfaat dalam menjaga kelembaban kulit. Apalagi dalam cuaca panas yang membuat kulit wajah lebih kering seperti ini, kandungan kalium dalam putih telur dapat membantu kita menjaga kelembaban kulit wajah kita.
  • Riboflavin. Salah satu hal yang paling ditakutkan wanita yang menginjak usia kepala 3 seperti saya adalah kerutan halus, baik karena faktor usia ataupun pengaruh radikal bebas. Riboflavin yang terdapat dalam putih telur bermanfaat sebagai antioksidan yang mampu menjadi penangkal radikal bebas yang merusak sel kulit wajah dan menyebabkan kerutan.
setelah semua bahan dicampur

Lalu bagaimana cara membuat masker putih telur ini? Membuatnya cukup mudah kawans, dan bahannya juga mudah di dapat. Siapkan saja
Bahan:
  • 1 butir putih telur, saya pake telur ayam kampung
  • 1/2 sdt madu
  • 1/5 sdt air jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis

Cara Menggunakannya:
  • Campur semua bahan dan aduk hingga rata
  • Bersihkan wajah dengan air hangat menggunakan handuk yang halus untuk membuka pori-pori wajah
  • Dengan menggunakan kuas, sapukan masker putih telur merata ke seluruh wajah kecuali mata dan mulut, diamkan selama 10 - 15 menit
  • Bilas dan bersihkan dengan air hangat menggunakan handuk halus kemudian kawans bisa menggunakan gel jerawat yang kawans punya untuk membantu proses pengeringan jerawat

Mau mencoba? Yuk ah, dicoba aja yang murce kek gini, daripada beli masker mahal-mahal tapi belum tentu cocok juga kan. Mau pake krim dokter mau enggak, masker ini bisa dicoba siapa aja koq 😊. Happy Independence Day ^^ 



*Diolah dari berbagai sumber

Friday, October 2, 2015

Menggugat Wanita (Lagi)

2:32 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Mau curhat nih. Duh ni orang makin kesini kenapa makin cerewet buat curhat ya? hihihi maapkeun saya kawans, soalnya dari kemarin saya denger banyak cerita sana sini kembali menyoal tentang hak dan kewajiban wanita sebagai istri, diluar tanggung jawab dia sebagai seorang ibu. Mulai dari teman sampai tetangga, ternyata masih aja ada yang meributkan masalah peran istri dan tugas kenegaraannya (tugas rumah tangga maksudnya).  Mungkin saya kurang tahu tentang ayat ataupun kitab yang membahas penuh dan detil apa saja tugas istri dalam mengurus rumahnya secara fisik. Apakah hanya memasak, hanya mencuci, hanya membereskan rumah, atau bahkan mungkin semua itu bukan tugas dia sama sekali.

Memang saya pernah denger dan baca pada beberapa artikel islami kalo tugas-tugas rumah tangga seperti masak, nyuci baju, nyetrika, ngepel, bersih - bersih dan lain sebagainya itu bukan tugas istri, melainkan tanggung jawab suami, entah itu dia lakukan sendiri atau memperkerjakan seorang asisten rumah tangga (ART). Awalnya sih saya agak kaget juga dengan fakta ini, namun dengan dukungan dalil dalam artikel tersebut mau tidak mau memang saya bisa menerimanya. Apalagi ketika mendengar riwayat sayyidina Umar bin Khattab saat beliau ditanya mengapa beliau diam saat istrinya marah, beliau menjawab "karena dialah istri dan ibu dari anak-anakmu yang mengurus segala keperluanmu, membuat roti (dalam hal ini masak, red), mencuci bajumu dan menyusui anak-anakmu meskipun itu bukan tugasnya"  (sebuah riwayat yang diceritakan dalam program mozaik islam transTV).  Maka kemudian saya tak lagi heran ketika tetangga saya yang notabene gadis pesantren, yang setelah nikah ternyata tak mau melakukan tugas rumah tangga itu dengan motif bahwa semua itu bukan tugas seorang istri, dan saya pun tak kaget lagi saat suaminya yang juga orang pesantren mengamininya. Iyalah mereka sama-sama paham, mungkin kalo kita yang gak paham ini jadi suaminya, mungkin bakal marah, and well.. his husband enjoy it.

sumber gambar : etsy. com

Terlepas dari semua itu, saya pribadi sungguh kagum dan bangga dengan para istri dan ibu yang sanggup mengurus pekerjaan rumah tangganya sendiri ditambah dengan mengurus dan mengasuh anak-anak mereka. Saya salut dengan wanita karir yang berangkat pagi pulang sore, bahkan kerja shifting namun masih sanggup mengatasi segala keribetan di rumah dengan tangannya sendiri. Dan sayapun bersyukur untuk para istri dan ibu yang telah dibantu seorang ART atau babysitter dalam tugasnya, bersyukur mereka diberi keringanan oleh suami mereka. 

Dan dalam pandangan saya, sebenernya menjadi seorang wanita itu sungguh beruntung. Iya, beruntung banget! Bukan hanya dia dibebaskan dari tugas mencari nafkah untuk keluarganya, tapi dia juga diberi keringanan. Keringanan apa? saya pernah ingat ada hadits yang secara umum bunyinya begini  "seorang istri yang taat pada suaminya dan melakukan sholat lima waktu dan puasa ramadhan, maka dia bebas memilih dari pintu surga mana dia akan masuk"  saya agak lupa redaksi kata dan sumbernya tapi saya ingat benar bahwa hadits ini sahih, duhhh maafkan saya gak ahli kalo masalah dalil gini. Tapi kalo kita baca sekilas aja maksudnya pasti kita akan bilang bahwa wanita itu sungguh beruntung. Dengan tugas taat, sholat wajib dan puasa wajib aja dia udah bisa masuk surga, sementara lelaki!? hmmm... tau sendiri kan ya, maka jangan sepelekan tugas lelaki karena emang tugas mereka berat, tanggung jawab mereka dunia akhirat. 

Maka saya sendiri punya pandangan bahwa sebenarnya menjadi istri adalah kesempatan yang seluas-lusnya untuk mencari tambahan pahala. Suami, anak-anak dan rumah tangga kita adalah ladang pahala paling mudah dan paling dekat yang bisa kita temui 24 jam. Bisa dibayangkan donk, mulai sebelum subuh kita bangun kita bisa sholat tahajud, dilanjut nyiapin sarapan, nyuci baju, bersih-bersih dan lain-lain, coba hitung sudah berapa banyak pahala yang terkumpul jika kita tulus dan ikhlas melakukannya. Belum lagi pekerjaan lain yang kita lakukan di siang dan malam hari ditambah ibadah sunnah seperti sholat dhuha, puasa senin kamis dsb, mungkin kita bisa ngalahin pahala para kaum lelaki tuh. Gak ada salahnya koq kalo kita melakukan semua sendiri, gak usah malu pun gak usah gengsi, malah sebenernya kita harus bersyukur diberi ladang pahala yang luas oleh Allah. Kalo masih mikir gengsi inget deh riwayat sayyidah Fatimah, putri Rasulullah. Beliau mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri sampai tangannya kasar, dan juga mengasuh anak-anaknya sendiri sehingga terdidik dengan baik. Beliau gak mentang-mentang putri rasul kemudian tidak mau melakukan pekerjaan rumah tangga, malah beliau inilah yang akhirnya banyak menjadi motivasi dan inspirasi wanita muslimah saat ini. 

Kamu bisa bilang gitu karena sekarang kamu udah gak kerja diluar? pernah loh ada yang ngatain saya gitu. Saya mah kalem aja. Dia kan gak tahu kalo pas saya masih kerjapun masak, bersih-bersih dan nyuci semua saya kerjain sendiri, kalo nyetrika aja  tuh saya kasih londri karena emang saya sendiri gak sanggup. Jangankan pas masih kerja, sekarang aja pas saya masih off gini, urusan nyetrika saya masih manggil orang buat bantu nyetrika aja hihihihi :p

Setiap orang itu punya kemampuan yang beda, kalo emang kita gak mampu, ya bilang aja sama suami, minta dibantu ART buat menyelesaikan tugas negara itu, gak usah sok jadi super woman deh. Apalagi yang kerja diluar ditambah udah punya anak, duhhh.. mending jaga stamina deh. Urusan kerja biar diserahin orang, staminanya buat ngobrol sama suami dan anak aja biar gak sampai kehilangan waktu buat dekat dengan mereka. Ada masa dimana kita bisa melakukan semua sendiri tanpa kehilangan kebersamaan dengan keluarga namun ada juga waktu kita harus mengalah dengan perkerjaan karena faktor kesehatan dan lainnya. Gak usah maksa!Jangan pernah memaksakan diri buat melakukan semua sendiri hanya biar dibilang super woman, super mom, atau multitalented woman. Semua itu gak ada artinya koq, yang penting mah sama-sama nyaman kalo dirumah itu, biar kerasan dan gak jadi beban, tul gak?  as simple like that


sumber gambar : mobavatar. com

Wednesday, September 30, 2015

Tentang Eksistensi dan Sosial Media

9:05 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Akhir bulan suami pulang malam karena kejar setoran, alhasil kerjaannya buka laptop browsing sana sini, ngeyutub drama korea, buka sosial media sedikit lama dari biasanya sampai akhirnya ngernyitin dahi karena postingan beberapa hari ini di sosmed biru itu. ini ceritanya mau curhat? iye nek, eike mau curhat ngalor ngidul ni malam daripada bengong kekenyangan sambel ikan asin tapi suami gak juga muncul dihadapan jiahahaha...

sumber gambar : liputan6.com
Jadi begini, usia saya ini kan udah diambang kepala 3, secara umum sih masih agak muda lah dibanding yang lain yang udah kepala 3 lebih separo atau seperempat, selebihnya saya mah udah tuwir kalo nonton acara klasikanya ar*kTV, secara saya nyadar betapa lagu-lagunya itu kondang dijaman saya SD atau SMP, sadar benerrrr kalo semakin kesini saya semakin tuwir, tapi semakin kece (gilanya) :p yah, begitulah pembelaan orang yang mendadak setres karena tiap hari kepala pusing dan punggung sakit, daebak...mulai ngelantur lagi hihihihi..sorry sorry.. Mari kembali ke keyboard!

Ngomongin umur, iyes, saya gak nyangkal, saya dulu pernah alaiiiii, pernah jablaiiii sampai semua-semua di tulis di status, semua hal detil akan di update as long as I breath wkwkwkw...maklum, masih ababil, masih butuh tatih tayang dan butuh asupan gizi :p

Jadi demikian halnya saya dan teman-teman lain yang saya pantau (alah :p ) kayaknya senasib sama saya, semakin tuwir semakin jarang nyetatus, jarang ngaplod2 poto menye-menye selpi ala ababil atau meminimalisir posting yang berbau mesra-mesra karena memang perlahan tapi pasti kami tahu mana yang boleh dicurhatin buat komsumsi publik mana yang tidak. Ya...meski tidak semua akan setuju sih dengan pendapat saya, karena memang tiap orang beda jadi gak mungkin saya maksa setiap orang bisa menerima pendapat saya.

Tapi, sepertinya rasanya gimana gitu ya kalau setiap detil hari kita diceritain runuuuuuuuutttt bener sampai seolah kadang saya malu buat bacanya. Nyetatus daily routiine gak ada yang ngelarang sih, suka-suka aja, tapi kalo tiap hari di status detil di sosmed gitu koq rasanya jadi konyol, konyol kayak kurang perhatian aja sih menurut saya, maafkan buat yang tidak setuju.

Tapi memang tidak semua begitu, ada yang memang pengen ngeksis aja atau yang alasannya kece tuh, pengen share info agar yang lain bisa mengambil pelajaran atau contohnya, yang satu ini saya amini, bagus donk. Iyalah sosial media memang cucok buat share hal baik dengan porsinya, info bermanfaat dan jualan (teteup, begini ini otak mantan pedagang, mantan sales MLM, dan yang empunya salah satu impian buat punya butik sendiri, otak dagang berkeliaran :p ).

Tapi berdagang di sosial media pun ada etikanya donk, gak asal nyepam apa posting dagangan sampai numpuk-numpuk dan menuhin timeline, jadi temen dan follower pun tetep asik, betul gak? Nah sama juga kalo mau curhat, yah...gak tiap hari juga keuleus. Gak usah terlalu lebay macam ababil, mau curhat ya curhat aja tapi ya mbok gak tiap hari dengan cerita sedetil mungkin, jadi malu yang baca hihihi...tapi begitulah adanya. Kebanyakan sih cewek, tapi ada juga yang cowok sampai geli bener bacanya, koq ya ada :D

Kata seorang temen sih, "sosial media isinya orang nyampah", ah totally i disagree! Bahasa nyampah itu memang kasar, tapi inget ada sampah organik dan sampah non organik, sampah pun bisa diambil manfaatnya contohnya buat daur ulang. Analogi saya sih gitu, jadi nyampah itu sah-sah aja asal nyampah pada tempatnya. Iya donk, buang sampah aja musti pada tempatnya, apalagi curhat. Kalau mau curhat yang dibaca semua orang ya nyampah aja seperti saya ini hihihi... kalo mau nyebut sampah sih, sukur-sukur bisa buat refleksi hehehe, nyampah segerbong kereta ditulis semua di blog wkwkw.. puas puas dah ni jempol ngetik, daripada disewotin orang disosmed, mending saya buka lapak sendiri :p

Iya, memang beragam alasan dengan beragam latar belakang masing-masing orang, tapi.....punggung saya udah koar-koar protes minta rebahan, sebenernya pengen curhat panjang tapi karena tidak memungkinkan mari kita bahas besok lagi, okesip...gud nite all.... :*

Monday, September 28, 2015

IBU BEKERJA (bukan) VS IBU RUMAH TANGGA

5:01 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Tulisan ini merupakan reblog dari tulisan mbak mukti yang tulisan aslinya bisa di lihat disini :


Banyaknya diskusi dan debat kusir tentang ibu bekerja dan ibu tidak bekerja dalam mengasuh anak membuat saya sedikir gerah. Bersyukur menemukan tulisan ini sebagai penerang, oleh karena itu saya reblog dan saya bagi disini. Berikut tulisannya:

Ini merupakan tulisan yang sudah lama saya rencanakan, tapi tertunda terus karena berbagai kesibukan. Tulisan yang lahir karena saya miris dengan saling tuding-menuding. Ini paling baik, itu tidak! Padahal keduanya adalah pilihan.

Sebelum masuk ke hal yang lebih serius, mari sejenak bayangkan dunia ini tanpa ibu-ibu yang mau bekerja di sektor publik. Nggak ada dokter kandungan perempuan, yang ada laki-laki atau dokter yang masih gadis. Nggak ada ibu guru, yang ada pak guru atau bu guru yang masih muda-muda. Nggak ada pembantu rumah tangga perempuan (yang sekedar menyuci nyetrika lalu pulang), karena mereka rerata juga adalah ibu. Nggak ada pedagang perempuan, kecuali yang masih gadis-gadis seusia SPG-SPG itu. Nggak ada psikolog perempuan, konsulnya dengan bapak-bapak psikolog aja. Nggak ada bidan perempuan yang senior, melahirkan pun dengan bidan muda yang baru lulus, atau dokter SpOG yang laki-laki.

Ini memang ekstrim banget ya. Sampai ada yang gemes bilang ke saya, “Sekalian aja dibilang, andai tak ada laki-laki di dunia ini!“. Hoho. Tetapi, kadang, kita perlu berpikir ekstrim untuk melihat, bahwa harmoni kehidupan itu ada justru karena keragaman. Ada ibu yang bekerja, ada ibu yang tak bekerja. Tak ada siapa yang lebih baik dari siapa, kecuali siapa yang paling banyak amalnya. Masing-masing ada peluang dan ada ancamannya. Ibu bekerja relatif sedikit memiliki waktu dengan anak. Namun, ibu di rumah pun tak otomatis lebih baik, karena bisa jadi tidak bekerja di luar tetapi juga belum sepenuhnya perform dalam mengasuh anak, atau sibuk dengan hal lain, termasuk menjadi sosialita, atau bersosmed ria, meskipun di dalam rumah.Jadi mari, saling bersinergi, bukan saling menghakimi :)

Memang kadang terlihat bahwa rumput tetangga lebih hijau. Ibu bekerja (Working Mom, WM) tetaplah ibu, yang juga ingin selalu dekat dengan anak-anaknya. Namun kondisi tiap orang tak sama. Ibu di rumah (Full Time Mother, FTM) pun, juga adalah pilihan, yang kadang tak semua orang memiliki peluang. Dalam keseharian, ibu di rumah kadang juga menginginkan waktu yang tenang, ‘me time’ lebih banyak, tak melulu disibukkan urusan anak-anak. Ibu bekerja kadang iri pada ibu di rumah , ibu di rumah kadang iri pada ibu bekerja. Ini normal saja. tanda bahwa saling cinta :)

Pada tiap rumah tangga, banyak latar belakang yang melahirkan sebuah keputusan. Ada yang suaminya di-PHK, ada yang suaminya tiba-tiba invalid dan tak mampu bekerja. Ada juga ibu yang harus menyantuni dua orang tuanya yang makin renta, sedang penghasilan dari suami tak cukup untuk itu semua. Dan ada pula yang bekerja karena keberadaannya dibutuhkan oleh kaumnya, ibu-ibu dan anak-anak lain. Sepanjang semua bukan sekedar ‘asal bekerja’, berniat membantu sesama, bukankah itu mulia?

Sedang jenis pekerjaan yang lalu mampu dilakukan, tentu tak semua sesuai keinginan. Tak semua ibu bisa mendapatkan penghasilan dengan cara persis seperti apa yang diimpikan. Tapi demi membantu sesama, apa yang di depan mata, itulah cara Allah mengantarkan rizki padanya. Lha opo kantore/juragane mbahe, bisa milih kerjaan sakpenake dhewe? Lantas sepanjang itu halal, kenapa diperdebatkan?

Ada kisah menarik yang ingin saya ceritakan. Tentang bu A, ART yang biasa bekerja di rumah saya setiap harinya lebih kurang 3 jam untuk mencuci, menyetrika & memasak; pekan lalu minta diri. Dia mendapatkan tawaran untuk bekerja full time di tetangga, tentu dengan gaji berlipat. Tawaran itu dia ambil, karena dia memikirkan keinginan anaknya yang sebentar lagi lulus SMA, ingin kuliah. Sementara dia berhitung dari penghasilannya dan penghasilan suaminya yang tukang bubur ayam, belum mencukupi untuk itu. Padahal saya tahu, fisik ibu ini sebenarnya agak lemah, sering sakit kalau kecapekan. Tapi dia nekad menerima tawaran itu, agar anaknya nanti bisa kuliah. Lalu, ART ini akan digantikan seorang ibu B, yang baru datang dari kampungnya di Jawa Tengah. Suaminya stroke, sedang anak-anak tetap butuh makan dan sekolah.

Jika bisa memilih, mungkin para ibu lebih senang untuk mengelola uang pemberian suami, dan mengelola sebuah usaha yg dapat dikelola dari rumah. Tetapi, kesempatan dan peluang tidak berlaku seragam pada tiap orang. Maka apa yang dilakukan ibu A dan B, juga banyak ibu bekerja lainnya, adalah justru wujud MENCINTAI anak-anaknya, wujud tanggung jawabnya pada keluarga.

Bekerja, adalah satu sarana mencintai anak-anak, dengan cara yang tak harus sama. Pahala tetap tercurah karenanya, sebagaimana ibu yang stay di rumah menemani anak-anaknya sepanjang waktu. Kecuali kalau ada ibu bekerja, karena hanya tak betah di rumah saja, hanya untuk pergaulan, atau gengsi semata. Nah yang seperti ini, biar Allah yang menghitung niatnya :)

Lalu, jika memang memilih sebagai ibu bekerja, bersiap-siaplah untuk menjadi ibu yang tidak biasa. Berkurang jadwal tidur kita, juga perlu ketahanan fisik di atas rata-rata, serta mental baja. Salah satu sendi yang utama, tentu adalah keridhaan suami belahan jiwa. Jika kerja tanpa seizinnya, jatuhnya tetap dosa. Dibutuhkan komunikasi dan sinergi dengan suami yang sangat intens, agar ibu bekerja dapat menjalankan amanahnya di rumah maupun di tempat kerja dengan baik.

Saat ibu pulang kerja, bukan berarti saatnya melepas penat seharian. Karena sejak di pagar rumah pun, anak-anak berebut minta perhatian. Pun nanti saat suami datang, tetap harus disambut dengan senyuman. Ibu bekerja harus mampu memilih ‘tombol mental‘ yang pas sesuai kondisi dia berada, sektor domestikkah, atau sektor publikkah.
Seorang ibu bekerja, perlu memastikan bahwa sektor domestik bisa dikendalikan dengan baik, sebelum kakinya melangkah ke sektor publik. Jika sektor domestik belum mampu ditangani dengan baik, maka mungkin kita perlu memikirkan ulang, tentang jenis pekerjaan yang lebih mungkin kita lakukan. Karena jika memaksakan diri, ada pihak-pihak yang akan terzalimi, dan kedua sisi (domestik-publik) tidak berjalan optimal. Sedang idealnya adalah kita bisa fokus, optimal saat di rumah, juga optimal saat di tempat kerja. Bukan sebaliknya, di rumah memikirkan pekerjaan, di tempat kerja memikirkan rumah. Sa’atan wa sa’atan, masing-masing ada saatnya, dan itu perlu manajemen yang baik. Memang tak mudah, namun harus diasah. Jika memang sulit, maka tak perlu memaksakan diri. Kita masih bisa mencari peluang untuk tetap beraktivitas dan bekerja, tanpa perlu banyak meninggalkan rumah.

Sekarang, saya ingin bahas ibu bekerja berkaitan dengan keselarasan antara sektor domestik (keluarga), sektor publik (pekerjaan) dan sektorlangit (bekal agama). Jadi, ada tiga sektor yang harus kita dudukkan, mana yang lebih utama: sektor domestik, sektor publik, sektor langit. Maka, jika ada benturan diantara ketiganya yang tak bisa lagi disiasati, semoga kita tak salah memilih skala prioritas. Dua yang utama adalah sektor langit dan sektor domestik, sedangkan yang satu, sektor publik, sejatinya hanya pilihan, opsional, yang tidak boleh mengorbankan dua sektor sebelumnya.

Seorang ibu bekerja, harus final dulu pemahamannya tentang ini. Apalagi kalau dia memiliki tuntutan/kewajiban untuk berkiprah sebagai salah satu unsur penggerak dakwah. No excuse. Inilah yang saya maksudkan di atas, bahwa ibu bekerja perlu memiliki mental baja, jadwal rehat yang lebih sedikit dari rerata ibu biasa. Jika akhirnya sektor langit dan sektor domestik keteteran karena urusan sektor publik, sesungguhnya, kita belum terlalu siap mental untuk terjun di sektor publik.

Maka sungguh saya tak habis pikir, kalau ada ibu yang bekerja full time di luar rumah, lalu sabtu ahad pun tidak mau disibukkan dengan sektor langit dengan alasan, “Capek ah, saatnya istrahat“, atau “Maaf ya, tapi akhir pekan adalah family time bagi saya“. Lebih saya tidak habis pikir lagi, jika ada suami yang membolehkan istrinya bekerja setiap hari, tetapi justru melarang istrinya jika sabtu/ahad pergi berdakwah atau mengaji.

Mari kita berpikir sejenak. Bukankah ibu bekerja mau repot-repot keluar rumah untuk mencari ‘bekal’ yang secara ekonomis akan membantu biaya dalam keluarga? Memastikan bahwa pendidikan anak-anak terjamin, asupan gizi juga tercukupi, dan itu semua butuh uang, lalu seorang ibu memutuskan untuk membantu suaminya dengan bekerja juga.Lalu, bukankah sektor langit juga sejatinya juga upaya mengumpulkan bekal, yang justru lebih abadi impact-nya dari sekedar bekal ekonomi? Jadi mestinya, justru karena kita sayang pada keluarga lah, dan tetap ingin terus bersama mereka meski nanti ajal memisahkan antar anggota keluarga, maka kita harus mengutamakan sektor langit. Karena dengan hanya mencari bekal untuk sektor langit lah, yang mampu memberikan jaminan bahwa keluarga ini akan tetap utuh meski secara jasad telah terpisahkan.

Nah, lalu kalau saking sibuknya dengan sektor publik, lalu sektor langit hanya menunggu sisa waktu luang, atau menunggu mood datang, barangkali saatnya kita untuk berhenti sejenak. Memikirkan ulang tentang hakikat kehidupan diri yang sejati: Apa yang sesungguhnya kita cari? Benarkah suasana seperti itu yang kita ingini?

'Perhentian sejenak’ seperti ini memang perlu sering dilakukan, supaya naluri kita tak mati rasa, dan kita seolah-olah menjadi robot pekerja, yang tahu-tahu sudah tua dimakan usia. Sia-sia umur kita berbilang tahun, tanpa bekal yang berarti untuk keluarga. Padahal, niat awal kita bekerja, juga adalah demi cinta pada keluarga.

Pada ibu bekerja, juga ada saatnya untuk ‘berubah pikiran’, mengkaji ulang, sesuai keadaan. Seorang teman kuliah saya, di suatu sekolah kedinasan yang tomboy pwol, setelah lulus bekerja dan berkeluarga bertahun-tahun, memilliki anak. Ternyata, salah satu anaknya terindikasi autis. Dia memutuskan untuk cuti di luar tanggungan negara selama 2 tahun untuk mendampingi anaknya itu yang tentu sangat membutuhkannya. Saat cuti 2 tahun habis dan anaknya masih sangat memerlukannya, maka dia memutuskan resign dari PNS. Sayangkah dengan karirnya di PNS? Padahal instansinya dikenal dengan remunerasinya yang ‘membikin cemburu banyak PNS’ lain? Tidak! Sektor domestik jauh lebih utama untuk didahulukan.
Ada juga cerita lain. Istri mantan bos suami, tampak begitu exciting saat saya membawa baby ke kantor suami. Dia banyak memberikan nasehat ini itu, tentang kesehatan bayi, dengan banyak istilah medis. Awalnya saya bingung, bukankah ibu ini FTM? Usut punya usut, ternyata beliau dulu adalah bidan. Tetapi karena suaminya seringkali dipindahtugaskan dan termasuk agak ‘rewel’ urusan makan (pagi-siang-malam menu makanan harus beda), maka dia memutuskan untuk resign dari bidan dan mendampingi suami kemanapun ditugaskan, termasuk pindah tugas ke beberapa negara.

Ini gambaran, bahwa pilihan seseorang bisa berubah menyesuaikan kondisi yang terjadi. Setinggi apapun capaian di sektor publik, kadang ada kondisi di mana ibu bekerja perlu melakukan evaluasi. Bisa karena dikaruniai ABK seperti teman saya itu, bisa juga faktor suami, atau faktor orang tua yang semakin renta. Bisa juga ada jenis pekerjaan yang lebih fleksibel. Evaluasi terus-menerus perlu diperlukan, agar langkah ibu bekerja tidak kebablasan. Karir bukanlah Tuhan yang harus diutamakan, saat sektor domestik atau sektor langit lebih membutuhkan.

Justru, jika kita memberatkan pekerjaan, barangkali perlu kita telisik lagi apa yang ada di hati: Benarkah aku bekerja karena mencintai keluargaku? Atau karena aku memiliki ambisi pribadi dalam pekerjaanku?


Sebagai seorang muslimah, sebagai penutup tulisan ini saya juga ingin sedikit menulis tentang bagaimana kajian tentang ibu bekerja dalam fiqh. Sebelumnya saya harus mengaku dulu bahwa saya sama sekali bukan ahlinya. Tapi paling tidak kita bisa belajar dari beberapa kisah pendahulu. Salah satunya adalah kisah dari sahabat pemberani, putri dari sahabat terpercaya, Abu Bakar As-Shiddiq. Dialah Asma binti Abu Bakar. Dia bercerita, saat dia sudah menikah dengan salah satu mujahid gagah pujaan hatinya, 

“Ketika aku menikah dengan Zubair, ia tidak memiliki harta sedikit pun, tidak memiliki tanah, tidak memiliki pembantu untuk membantu pekerjaan, dan juga tidak memiliki sesuatu apa pun. Hanya ada satu unta milikku yang biasa digunakan untuk membawa air, juga seekor kuda. Dengan unta tersebut, kami dapat membawa rumput dan lain-lainnya. Akulah yang menumbuk kurma untuk makanan hewan-hewan tersebut. Aku sendirilah yang mengisi tempat air sampai penuh. Apabila embernya peceh, aku sendirilah yang memperbaikinya. Pekerjaan merawat kuda, seperti mencarikan rumput dan memberinya makan, juga aku sendiri yang melakukannya. Semua pekerjaan yang paling sulit bagiku adalah memberi makan kuda. Aku kurang pandai membuat roti. Untuk membuat roti, biasanya aku hanya mencampurkan gandum dengan air, kemudian kubawa kepada wanita tetangga, yaitu seorang wanita Anshar, agar ia memasakkannya. Ia adalah seorang wanita yang ikhlas. Dialah yang memasakkan roti untukku.”

Artinya apa? Bahwa Asma kurang pandai memasak, seperti saya  #eh salah fokus :D
Maksudnya, bahwa Asma juga bekerja, bahkan hingga mencarikan rumput untuk ternaknya. Juga mengurusi kebun kurma, yang letaknya jauh dari rumahnya. Dan semua itu terjadi di zaman Rasul masih hidup, seperti yang dikisahkan oleh Asma, saat ia harus berjalan jauh berkilo-kilo dari kebun kurma menuju rumahnya, sambil membawa beban berat hasil panenan kurma, lalu bertemu rombongan Rasulullah di perjalanan. Rasul sempat menawarkan untuk menaiki salah satu onta di rombongannya, namun Asma menolaknya dan memilih tetap berjalan kaki, karena dia teringat dengan suaminya yang pencemburu. Sampai di rumah, ia berkisah pada suaminya “Tadi aku bertemu Rasulullah SAW ketika aku membawa kurma di atas kepalaku. Beliau disertai beberapa orang sahabat. Beliau menyuruh untanya duduk agar aku pergi bersamanya. Aku merasa malu dan teringat sifatmu yang pencemburu.”Zubair pun menanggapi cerita istrinya, “Demi Allah, keadaanmu membawa kurma di atas kepala lebih memberatkan hatiku dari pada kau naik unta bersama beliau.”Maka bagi saya, Asma adalah perempuan pemberani yang perkasa. Bayangkan, berjalan kaki sekitar 3,4 km dengan menyunggi berkilo-kilo kurma di kepala! Dan dia bekerja dengan keikhlasan yang luar biasa, tidak main ‘nebeng kendaraan’ teman suaminya, meski ditawari.

Kita juga bisa belajar dari kisah perempuan agung istri Rasulullah yang pertama, Hadijah RA. Bukankah beliau seorang pengusaha perempuan yang sukses go international hingga akhir hayatnya? Yang lalu memberikan banyak harta, bahkan hampir seluruhnya, untuk dakwah suaminya? Kita juga bisa belajar dari Ummu Fadhoh, seorang perempuan paruh baya yang bekerja di rumah Fatimah binti Muhammad, istri Ali.

Artinya, pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh ibu rumah tangga semacam ini di luar rumahnya, wajar saja. Asal memang kita memenuhi aturannya secara syar’i. Apa saja itu? Terlalu panjang jika harus dikupas di sini, dan sudah banyak pula yang membahasnya. Silahkan gugling sendiri ya :)

Selain itu, ada juga kaidah tentang hasil dari pekerjaan seorang istri, ”Khusus masalah penghasilan istri yang bekerja, semuanya menjadi haknya. Suami tidak boleh mengambil harta itu sedikitpun, kecuali dengan kerelaan hati istrinya.” (Fatwa Islam, no. 126316) . Artinya apa dong? Ya artinya bahwa jika ada kajian tentang pengelolaan penghasilan istri, berarti bekerjanya pun bukan suatu larangan (dengan syarat tertentu). Analoginya begini. Maling itu tindakan yang jelas dilarang, haram. Maka tidak ada pembahasan khusus tentang duit hasil permalingan, yang memang sudah jelas-jelas haram, karena pekerjaanya pun memang haram.

Mungkin tulisan ini masih jauh dari sempurna, karena memang banyak sekali aspek-aspek yang harus kita bahas lagi. Silahkan jika ada yang ingin melengkapi baik di komentar atau postingan dengan topik yang sama. Spirit tulisan ini sekali lagi adalah agar kita mencoba saling memahami. Akan menjadi ibu yang bekerja di luar rumah (WM) atau menjadi ibu yang full dirumah (FTM), semuanya dikembalikan pada pilihan masing-masing, dan semuanya memiliki tanggung jawab yang tidak ringan.

Sebagai penutup tulisan ini, ada baiknya kita menilik saling korespondensi yang begitu apik antara seorang ibu bekerja dan ibu rumah tangga, di sini. Sungguh, semangat yang perlu kita tiru untuk saling bersinergi, bukan menghakimi :)

Friday, July 10, 2015

Peranmu Surgamu

8:02 PM 0 Comments
💐💐 PERANMU, SURGAMU 💐💐
👩 Ustz. Poppy Yuditya
🏯 Kuliah Akademi Orangtua Parenting Nabawiyah
Sabtu 20 Juni 2015

⭐ Peran muslimah
Berapa jumlah perempuan disebut dalam Al Qur'an? Semua tercakup dari zaman Nabi Adam sampai akhir zaman. Ternyata hanya 20 yg disebut secara dzahir. Dari 20 tersebut ternyata Allah hanya menyebut 1 nama saja, yakni Maryam. 19 lainnya tak disebutkan.

Mengapa?
Karena akhlaqnya paling sempurna dan bisa jadi hanya Maryam yang terbebas dari aib.
Ini bukan berarti yang lain tidak mulia, namun Allah jaga aib mereka.


⭐ Perempuan dlm Al Qur'an :
1⃣ Belum menikah
Maryam, Ratu Balqis, 2 perempuan yang bertemu Nabi Musa, saudara  perempuan nabi Musa, 
2⃣ Sudah menikah
Hawa, istri Nuh, istri Luth, Sarah, Hajar, Zulaikha, Asiyah, Istri Imron, istri Zakaria, Hafsah, Aisyah, Zainab, istri abu Lahab, Khaulah binti Tsa'labah
3⃣ Ibu
Hawa, Sarah, ibunda musa, istri imron, istri Zakaria, Maryam
⭐ seringkali kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan surga karena mendidik anak. Bagaimana kalau kita belum punya anak?

Hipotesis ini tidak selalu tepat. Lihat perbandingannya : dalam Al Qur'an yang terbanyak dibahas adalah peran istri, yakni sebanyak 54%. Muslimah sebagai pribadi 19% dan sebagai ibu 27%. Peran istri menempati porsi paling besar peran perempuan yang disebutkan Allah dalam Al Qur'an.

⭐ maka kita tersadar kembali akan makna hadits ini...
"Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad)

⭐ Kita berjuang keras untuj menjadi ibu terbaik bagi anak-anak... Namun, simak hadits ini.. 
"… dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.
Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?” 
Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka.” Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.’ ” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)


⭐ meski kita sering gondok dan kesal pada suami..tapi ingat bahwa ini semua untuk keridhoan Allah. Wanita surga tdk berpikir siapa yang salah..ia hanya berkata seperti dalam hadits berikut,
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: 
"Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” 
Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” 
Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” 
(HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah)

⭐ sangat jarang malaikat melaknat manusia, kecuali untuk urusan "kasur". Beware...❗

⭐ seberat apapun..setiap peran yang ditetapkan Allah adalah untuk kebaikan kita. Tidak ringan, tetapi ada kebaikan jangka panjang yang Allah berikan.

⭐ jika anak-anak melawan pada kita, tidak menurut dsb, jangan berpikir "anak ini harus diapakan".
1. Tanya dulu pada diri sendiri, apakah sudah melakukan atau belum. Misal kita bingung bagaimana agar anak mau menghafal Qur'an. Sebelumnya, apakah kita sudah menghafal juga?
2. Cek, bagaimana ketaatan kita pada suami
3. Periksa, bagaimana sholatmu? Bagaimana doamu?


Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips mendidik anak dsb. Tapi karena Allah ridho.
So yangharus menjadi concern kita adalah bagaimana membuat Allah ridho. Karena jika Allah ridho, Ia memberi segala yang kita inginkan.


⭐ Standar perempuan shalihah itu seperti perempuan-perempuan shalihah yang tersebut dalam Al Qur'an.

⭐ kerangka taat dan menunaikan kewajiban/kebaikan pada suami adalah untuk mendapatkan ridho Allah. Apakah setelahnya suami semakin sayang dan cinta, itu hanyalah bonusnya 🎁
💝Penuhi inventory kepala kita dengan profil dan kisah-kisah istri shalihah.

⭐ Kisah 2 perempuan yang bertemu nabi Musa adalah kisah tentang perempuan bekerja. Mereka bekerja karena menggantikan ayahnya yang sedang sakit. >> wanita harus punya alasan untuk bekerja. Dan jika bekerja, tidak ikhtilat (misal dinas luar dengan rekan lawan jenis).

⭐Ratu Balqis : pemimpin Negeri Saba'
➡ meninggalkan kesombongan dan mudah menerima kebenaran

⭐ Ibunda Musa : rela berkorban untuk keselamatan anaknya (Nabi Musa)

⭐ kisah saudara perempuan nabi Musa : mengikuti peti Nabi Musa yang dihanyutkan di sungai Nil
➡ menggambarkan sosok perempuan yang pintar, mampu bernegosiasi dan amanah.

⭐Hawa berkhianat karena membujuk suaminya makan buah khuldi. Namun Hawa masuk surga karena ia bertaubat. 
➡ hati-hati dengan bisik- bisik kita pada suami, karena bisa sangat mempengaruhinya.

⭐ Istri Nuh : tidak percaya pd suaminya saat ia membuat perahu, menjelekkan suami di depan anak-anaknya. Beware❗

⭐ Istri  Luth : melanggar amanah suami. Beware❗

⭐ Sarah : wanita yang sangat berharap punya anak. Jika ada keinginan dalam diri kita untuk tidak memiliki anak (lagi), jangan2 ada yang bermasalah dengan fitrah kita.

⭐ Hajar : ibu menyusui, tidak tahu mau kemana saat bersama Nabi Ibrahim, ditinggal sendirian entah dimana, dsb, namun tidak banyak bertanya.

➡ jangan jadi ibu-rempong rempong 💆
➡ nabi Ibrahim hanya menjawab singkat saat Hajar bertanya. Sebagai manusia biasa, mungkin Ibrahim mau menjelaskan, tapi beliau sendiri tidak tahu apa jawabannya. Para suami seringkali semakin bingung dengan pertanyaan2 kita. Yang dilakukan Khadijah saat Nabi bingung adalah menenangkannya, membawanya ke tempat tidur dan menyelimutinya. Bukan memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan. 
😐
▶ Hajar berlari bolak-balik antara Shafa-Marwah, pada posisi yang masih bisa mengawasi bayi Ismail. 

Hikmahnya adalah jika ibu bekerja, pastikan pandangan mata tetap dapat terjaga pada anak-anak kita. 10 tahun pertama adalah fase sangat penting dalam menumbuhkan tauhid anak.

⭐ Zulaikha : terpesona kerupawanan Nabi Yusuf dan menggodanya
➡ jangan merasa aman dari fitnah selingkuh. tetap jaga diri dan mohon perlindungan Allah.


⭐ Asiyah istri Fir'aun :
➡ kita tidak menanggung dosa suami, namun suami bertanggung jawab atas kita. 
Maka permudahlah, permudahlah suami kita.
Jika suami kita zhalim, kita tetap bisa masuk surga. Tapi mungkin saja suami terganjal masuk surga karena kita.

⭐istri Zakaria : istri mandul yg dapat memiliki anak dengan seijin  Allah

⭐ Aisyah : difitnah, lalu minta ijin pada Nabi untuk keluar ke rumah orangtuanya. 
➡ saat mendapat fitnah, kita jangan terburu-buru mengklarifikasi karena bisa saja isunya menjadi bola panas. Tenangkan diri dulu.

⭐  istri Abu Lahab : mengompori suami dalam kejahatan
➡ dukunglah suami dalam kebaikan, bukan dalam kejahatan

⭐ Zainab : bercerai karena suami tidak mampu menaikkan dirinya, dan istri tidak menurunkan dirinya, padahal keduanya adalah orang yang sholeh.
➡ pernikahan yang tidak bisa dipaksakan karena sudah diusahakan untuk setara tetap sulit sekali
➡ tinggikan suami di hadapan anak-anak, jangan pernah menjelekkan


⭐ Istri imron : banyak berdoa selama mengandung agar dikaruniai anak yang sholeh dan menazarkannya untuk Allah

✨ Menarik, rupanya dari semua perempuan yang disebut dalam Qur'an, tidak ada tentang wanita yang sangat menginginkan punya suami. Tidak ada keyakinan bahwa letak kebahagiaan adalah yang memiliki suami. Simak kisah Maryam, Balqis dll. Mereka tetap bahagia meski tidak berpendamping.
✨ jangan habiskan waktu berlebihan untuk pekerjaan rumah tangga. Memasak sampai 5 jam, menyetrika terlalu perfect dsb. 
Karena kita juga punya kewajiban belajar dan berkarya (tilawah, baca kitab, baca buku dll). Permudah pekerjaan, didik anak-anak untuk mandiri.

✨ Gak usah iri sama suami. Berbuat saja yang Lillah, yang terbaik untuk Allah. 
Buatlah suami merasa tenteram (QS. Ar rum 21). 
▶ note : cek lagi profil istri "setenang malam" dari kajian tafsir bersama ust.Herfi

✨ Kita tidak akan ditanya tentang berapa uang kita untuk membantu suami, tapi ditanya tentang rumah suami kita.
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga dan akan dimintai tanggungjawab atas kepemimpinannya, dan WANITA adalah penanggung jawab terhadap RUMAH SUAMINYA dan akan dimintai tanggungjawabnya serta pembantu adalah penanggungjawab atas harta benda majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
>> bebas najis/tidak, rapi/tidak dll

⭐ perhatikan PRIORITAS dalam menjalankan peran kita :
1. Ilmu vs Amal
2. Wajib vs Sunnah
3. Quality vs Quantity

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”. (QS. An Nisa : 9)


-end-y
✏ diresume oleh : Indra Fathiana

Tuesday, March 24, 2015

One Paragraph Story

6:50 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Ah entahlah sebenarnya saya ini ingin cerita apa. Jujur tulisan ini mungkin tidak mengandung unsur pengetahuan, info atau yang lain, melainkan boleh dikatakan cerita fiktif  hehehe...

Jadi ingat dulu jaman SMA saya suka menulis cerpen tapi tidak pernah ditayangkan, roman picisan ala anak ABG :D. Pas jaman kuliah masih mending pernah tayang di buletin fakultas. Pernah juga menulis novel sampai bab belasan sampai akhirnya hanya jadi draft di komputer sampai akhirnya komputernya dijual hahaha...

Kalau menulis cerita fiktif kadang saya merasa saat menulis tiap paragrafnya, saya merasa curcol, entah tentang cerita pribadi atau teman yang agak ditambah-tambahkan atau dimodifikasi biar menjadi cerita fiktif yang bisa diambil pelajarannya. Tapi memang tidak selalu mudah karena memang pada kenyataannya saya tahu bahwa tidak setiap cerita berakhir bahagia. Seperti drama Korea yang tidak selalu berakhir bahagia, Mi Rae yang akhirnya tidak memilih antara  Kim Shin atau See Joo, yaa sebenarnya saya ingin Mi Rae sama Kim Shin walau saya selalu tidak tega melihat wajah Yong Hwa (pemeran See Joo, red) kalau dia jadi second guy hahaha (lha kok jadi cerita drama Korea, gagal fokus ini namanya :D).

Baiklah kembali ke cerita fiktif. Ada kalanya sebuah mimpi ngaco siang haripun bisa menjadi cerita, dipermak sedikit ditambah nilai moral jadilah sebuah cerita. Tak perlu sepanjang cerpen atau setebal novel, meski hanya sebait sajak, selarik puisi atau separagraf kata kita bisa saja menghadirkan cerita fiktif dengan satu, dua atau beberapa pelajaran hidup. Yang penting kita tahu apa yang ingin kita sampaikan. Fokuskan pada obyeknya, tak perlu repot memikirkan apa yang menjadi properti atau siapa figurannya. Ambil apa saja yang bisa menjadi pendukung tokoh utama dan plot cerita.


Picisan! ah biarlah jika orang mengatakan picisan pada cerita pertama atau keduamu, yang perlu kita pahami bahwa setiap cerita mempunyai pesan, setiap tulisan membawa arti, info atau sekedar berbagi suka. Maka jangan pernah ragu untuk menulisnya. Bisa jadi uneg-uneg yang ingin ditumpahkan gagal dibagi karena memang kita tahu bahwa ada batasan dalam setiap curhat kita, dimanapun dan kepada siapapun itu, kecuali Allah tentunya. Kita sebenarnya bisa mengglobalkan masalah kita jika dirasa kurang arif jika menceritakan masalah pribadi pada orang lain. Atau dengan mengarang cerita fiktif yang mirip dengan yang kita alami jika kita tak ingin berbagi tanpa terbebani, yaahh... katakan saja cerita yang sempat dibaca atau ditonton. Kenapa? ini bisa meminimalisir kita agar tidak curhat di medsos dan sejenisnya. Tidak curhat dengan sembarang orang kecuali pada dia yang kita yakin dia tahu solusinya atau dia dekat dengan kita. Dan tidak pula curhat pada dia yang bukan mahram kita yang dapat memungkinkan adanya fitnah atau bahkan perasaan yang terlarang, yaa... you know lah kawans, beda jenis maksud saya, karena seperti pepatah jawa bilang "witing trisna jalaran saka kulina"  awal jatuh cinta karena terbiasa. Perlu diingat bahwa wanita adalah fitnah terbesar bagi lelaki, ini sudah dipesankan oleh baginda Rasul, dan lelaki memiliki tiga kelemahan yaitu harta, tahta dan wanita, maka menjaga kehormatan diri sendiri adalah wajib baik kita masih sendiri atau sudah berpasangan. Jangan sampai menjadi fitnah dan dosa bagi orang lain yaaaa...

Kemudian tentang menulis fiktif ini, eh.. saya baru sadar sudah terlalu panjang ya hehehe.. maafkan... Intinya bahwa setiap orang pasti ingin curhat tapi kita tahu banyak cara curhat yang tidak melampaui batasnya menjadi konsumsi publik, dan menulis itu salah satunya. Baik itu menulis sajak fiktif, puisi fiktif, cerpen fiktif, novel fiktif, atau curcol fiktif sama orang lain secara langsung. Pintar-pintar memilih dan merangkai kata lah ya. Baiklah cukup sekian saya ngelantur, silahkan mencoba semoga lega :D


Wednesday, November 5, 2014

Cara Menentukan Ukuran Bra

8:43 AM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Survey membuktikan 85% wanita melakukan kesalahan saat menentukan ukuran bra mereka, mungkin juga termasuk saya belum lama ini :D (dikutip dari wolipop.com)
Padahal selain menjaga keindahan payudara, juga berfungsi untuk menjaga kesehatan dan juga kekencangannya. Jika pemilihan bra salah akan membuat pengguna tidak nyaman bahkan mungkin akan membuat sesak dan kulit lecet jika kekecilan. Beruntung hari ini di dr. OZ Indonesia yang disiarkan oleh salah satu tv swasta membahas hal tersebut beserta demo nya sehingga memudahkan kita untuk mempraktekkan dan mengaplikasikan dalam diri kita, para wanita.

Untuk menentukan ukuran bra terdiri dari 2 hal yaitu menentukan ukuran lingkar dada dan menentukan ukuran mangkoknya, apakah A, B, C atau D. Untuk menentukan ukuran payudara ini kita harus mengukur payudara dengan menggunakan alat ukur seperti meteran. Disarankan dengan meteran yang menggunakan inci agar memudahkan penghitungan. Namun jika tidak ada, menggunakan meteran dengan satuan centimeter juga tidak masalah.

1. Menentukan lingkar dada
Cara mengukur lingkar dada adalah dengan mengukur bagian bawah payudara. Dimulai dari bagian tengah depan payudara kemudian diputar kebelakang. Dengan satuan inci akan didapatkan rumus sebagai berikut:
  • Jika hasilnya genap, tambahkan dengan 4 maka itulah ukuran lingkar dada Anda. Misal hasil pengukuran adalah 30, maka ukuran lingkar dada adalah 34.
  • Jika hasilnya ganjil, tambahkan dengan 5, maka itulah ukuran lingkar dada Anda. Misal hasil pengukuran 29, maka ukuran lingkar dada adalah 34.
Jika menggunakan meteran dengan satuan centimeter maka rumusnya adalah:
  • Jika ukurannya antara 63 -  67 maka ukuran lingkar dada Anda adalah 30
  • Jika ukurannya antara 68 -  72 maka ukuran lingkar dada Anda adalah 32
  • Jika ukurannya antara 73 -  77 maka ukuran lingkar dada Anda adalah 34
  • Jika ukurannya antara 78 - 82 maka ukuran lingkar dada Anda  adalah 36
  • Jika ukurannya antara 83 -  87 maka ukuran lingkar dada  Anda adalah 40
  • Jika ukurannya antara 88 -  92 maka ukuran lingkar dada Anda adalah 42
source: google.com
2. Menentukan ukuran mangkok/cup
Untuk menentukan ukuran mangkok bra kita, kita harus mengukur puncak payudara kita terlebih dahulu. Kemudian hasilnya kita kurangkan dengan ukuran lingkar dada kita. Dalam satuan inci akan kita dapatkan ukuran mangkoknya sebagai berikut:
  • Jika selisihnya 1" maka ukuran mangkoknya adalah A
  • Jika selisih 2" maka ukuran mangkoknya adalah B
  • Jika selisih 3" maka ukuran mangkoknya adalah C
  • Jika sselisih 4" maka ukuran mangkoknya adalah D
Sedangkan untuk satuan centimeter rumusnya adalah = lingkar puncak payudara -  lingkar dada + 2
  • Jika hasilnya 10 -  12 maka ukuran mangkoknya A
  • Jika hasilnya 13 -  14 maka ukuran mangkoknya B
  • Jika hasilnya 15 -  17 maka ukuran mangkoknya C
  • Jika hasilnya 18 -  19 maka ukuran mangkoknya D
source:google.com
Sementara untuk menentukan bahan bra, sangat disarankan untuk menggunakan bra berbahan katun agar dapat menyerap keringat, sementara bahan nilon, spandek dan polyster dihindari karena panas. 

Untuk ukuran payudara juga mempengaruhi pemilihan bra lho. Payudara yang kecil tentu tidak akan sama dengan payudara yang besar dalam berbelanja bra. Secara ukuran payudara dibagi menjadi 4 yaitu:
  • Payudara yang besar dan bulat disarankan menggunakan bra tanpa busa, dengan mangkok penuh dan tanpa kawat agar tetap kencang dan nyaman. 
  • Payudara sedang dan bulat disarankan menggunakan bra dengan kawat, berbusa dan mangkok penuh. Tujuannya agar payudara bisa tersangga dengan baik dan payuda terlihat lebih kencang. 
  • Payudara yang sedang dan mancung disarankan menggunakan bra dengan busa, berkawat dan mangkok boleh berukuran 1/2 atau 3/4.
  • Sementara payudara yang kecil dan mancung sangat disarankan menggunakan bra berbusa, berkawat dan mangkok berukuran 1/2 atau 3/4


diolah dari: dr. OZ Indonesia dan berbagai sumber

Saturday, September 20, 2014

Girl Power Manifesto

12:29 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Menyukai sesuatu, apapun itu, saya yakin ada satu atau beberapa hal sebagai alasannya. Seperti ketika saya menyukai sebuah band musik dengan vokalis wanita seperti Within Temptation, Evanescence, atau band lokal seperti Cokelat, Utopia atau Kotak pasti dengan alasan.  Mengapa saya menyukai mereka, alasannya cukup satu saja, vokalis wanita dalam aliran musik Gothic - alternatif - pop yang cukup didominasi kaum lelaki itu menunjukkan manifestasi, perwakilan, dan bentuk kekuatan wanita.

Apakah ini berbicara tentang emansipasi wanita? Saya rasa sepenuhnya tidak salah, tapi juga tidak seluruhnya benar. Karena girl power yang saya maksudkan berbeda dengan apa yang ditekankan kaum feminis barat.

Benar seorang wanita harus pintar, kuat, rajin, open mind, tidak kuin (kurang info), tidak kuper (kurang pergaulan), tidak kudet (kurang update), bijak,lincah, gigih, pantang menyerah tapi tetap kalem dan tidak meninggalkan sisi kewanitaannya.

Seorang wanita harus kuat tanpa dia harus bertingkah dan bergaya seperti lelaki. Tengoklah sohabiyah Nasibah, siapa yang tidak mengenal kegagahannya di medan pertempuran tanpa beliau melepas hijabnya dan tanpa bersikap seperti lelaki. Beliau kuat di dalam sikap lemah lembutnya.

Siapa yang tidak mengenal Fatimah putri Rasul SAW, secara fisik maupun jiwa beliaulah wanita terkuat. Putri Rasul namun mengerjakan segala pekerjaan kasar rumah tangganya sendiri hingga tangannya pun menjadi kasar. Wanita dengan ketabahan luar biasa akan hidupnya yang penuh cobaan dan kekurangan tanpa melalaikan mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang. Dalam kerajinannya mengurus rumah dan ketabahannya menghadapi hidup, beliau tidak melupakan bahwa wanita adalah makhluk penyayang.

Aisyah r.a istri termuda Rasulullah SAW yang terkenal sebagai ahlul bait yang cerdas. Statusnya sebagai wanita tidak menghalangi dirinya belajar, bahkan menjadi salah satu sumber valid bagi para perawi hadist. Beliau terkenal dengan wajahnya yang cantik merona yang pipinya kemerah-merahan hingga baginda nabi memanggilnya Humaira. Artinya bahwa wanita yang cerdaspun harus tetap memperhatikan sisi kecantikan di depan suaminya. Kecerdasan, rajinnya seorang wanita menambah ilmu dan wawasan bukanlah alasan untuk malas berbenah dan merawat diri. Jangan sampai lah kita sebagai muslimah dikatakan sebagai akhwat jorok. Pinter sih, tapi kalau rumah, kamar dan barang - barang pribadinya kotor, dekil, baju tidak disetrika, muka kucel, siapa pula yang mau berlama - lama diskusi dan ngobrol dengan kita? Big No lah!!

source : google.com
Istri Rasul ibunda Khadijah adalah sosok yang bijak. Beliau wanita kaya namun tetap santun dan menghormati Rasul sebagai suaminya. Tatkala suaminya dimusuhi kaum kafir Quraisy, beliau dengan sabar menemani, mendukung, dan membelanya tanpa keraguan. Ini menunjukkan bahwa sekaya apapun seorang wanita dia harus tetap patuh dan ada dibelakang suami yang menjadi imamnya. Harta tidak menjadikan alasan bahwa dia boleh menjadi kasar dan berani pada suaminya.

Dan kegigihan Siti Hajar, ibunda nabi Ismail a.s memberikan tauladan bahwa dalam kondisi apapun seorang wanita harus mampu bertahan dan pantang menyerah untuk keluarganya. Dengan kesulitan yang beliau alami tidak membuatnya meninggalkan suami dan anak-anaknya. Perjuangannya mendapat air untuk Ismail kecil adalah bentuk nyata bahwa seorang wanita harus pantang menyerah.

Berbeda dengan yang dicetuskan feminis barat yang mengagungkan kebebasan kebablasan dan keberanian tanpa batas bagi wanita. Wanita memang harus  seperti yang saya sebutkan diatas, namun bukan berarti dia melupakan sisi kewanitaannya yang cantik, lembut, bersahaja, bijak, penyayang, sabar, pantang menyerah, dan cerdas. Kelebihan tersebut tidak membuatnya menjadi berani dan tidak patuh pada suami, karena pada dasarnya wanita harus mematuhi imamnya selama tidak untuk bermaksiat kepada Allah.

Boleh dikatakan wanita mempunyai 3 sektor yang harus dia bangun yaitu sektor langit sektor domestik dan sektor publik. Sektor langit adalah bagaimana dia berusaha untuk dekat dan taat pada perintah Tuhannya dan menjauhi larangannya. Sektor domestik adalah daerah dalam lingkup rumah tangga dimana dia harus menjadi makmum bagi suaminya, ibu guru dan pengasuh bagi anak-anaknya jika dia telah bersuami. Atau menjadi anak yang berbakti pada kedua orangtuanya jika dia belum menikah. Sedangkan sektor publik adalah bagaimana dia berperan diluar rumah. Ijin suami atau ayah sebagai imam dan mahramnya adalah hal utama dan pertama yang harus dia dapatkan. Baru kemudian bagaimana dia mampu menyelaraskan ketiga sektor itu tanpa mengurangi sisi kewanitaannya, tanpa melupakan kewajibannya, dan tetap sebagai wanita "perkasa"  dibalik kelembutannya.

So... Jadi wonder woman??
Siapa takut!!!  ;)



Sunday, August 17, 2014

Merdeka Dimata Ibu Rumah Tangga

6:32 AM 1 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Merdeka!
Apa sih makna merdeka bagi kita? tentunya bermacam-macam persepsi yang akan terlontar dari masing-masing orang, karena pada hakikatnya mereka berpendapat subyektif sesuai apa yang dia inginkan saat itu. Bukan berarti mereka apatis atau cuek terhadap keadaan sekeliling yang mungkin membutuhkan makna merdeka lebih dari yang mereka persepsikan, tapi lebih pada pengharapan pada apa yang mereka sampaikan untuk menjadi sebuah kenyataan.


Berbicara tentang merdeka tentu semua setuju jika saya katakan bahwa merdeka itu adalah tebebas dari segala macam penghambaan yang bersifat duniawi, apakah itu penghambaan pada sesama manusia, sesama makhluk Allah, atau penghambaan pada materi dan isi dunia. Karena jika ternyata kita masih menghamba dan takut pada sesama sehingga beberapa aspek kehidupannya masih terinteferensi, tentunya tidak dikatakan merdeka dong! Maka harapan dari kemerdekaan tahun ini adalah diri kita pribadi  dan juga bangsa ini bebas dari menghamba pada sesama maupun bebas dari kedholiman pribadi menghamba pada hawa nafsu kita yang dapat  membuat kita merasa tak bebas menjalankan perintahNya. Finish disini untuk cakupan merdeka secara umum.

Kemudian merdeka dimata saya sebagai seorang ibu rumah tangga itu apa sih?
Sederhana! Merdeka itu hidup bisa barokah, semua kebutuhan murah, anggota keluarga betah dirumah dan satu poin kecil yang perlu dicatat suami saya adalah merdeka dari asap rokok, ya meski sempat adu argumen juga sik masalah yang satu ini tapi at least suami saya sudah berjanji dalam masa kampanye dan masa menjabat sebagai presiden dalam rumah tangga saya,  jadi harapan janji itu terwujud sangat boleh kan...  :D


Mengapa demikian harapan merdeka bagi saya? Siapa sih yang tidak ingin hidupnya barokah? dunia akhirat dia tak lagi galau karena dia memasrahkan segala ketetapan hidupnya pada yang kuasa, tak ada lagi ketakutan pada hal-hal bersifat duniawi, bebas dari penghambaan pada siapapun termasuk pada hawa nafsu pribadinya. Belum lagi manfaat yang akan dia sebar pada sekitarnya, tentunya akan tanpa pamrih karena yang dia harap hanya ridho dan berkah dari penciptanya.

Kemudian tentang semua murah, pasti bukan hanya saya saja kan yang berharap demikian? Saat semua kebutuhan murah, pendidikan murah atau gratis kesehatan murah atau gratis, tak ada lagi yang dirisaukan seorang ibu rumah tangga. Dia takkan takut dengan kriminalitas akibat mahalnya biaya hidup, tak takut anggota keluarga sakit tanpa perawatan, tak takut anak tak bisa sekolah, dan terlebih lagi harapan itu mampu menekan angka kejahatan publik baik itu kriminalitas di jalanan maupun dikantoran (korupsi dll). Tentunya ini dibarengi dengan penghargaan sepantasnya dari pemerintah dan pemilik modal untuk bisa menghargai para pekerja yang sudah dengan segenap tenaga bekerja terbaik sesuai kewajibannya.

source: google.com
Dan tentang betah di rumah, semua orang pasti tahu rumah adalah surga dunia dimana setiap istri akan tertawa didalamnya mewarnai indahnya kehangatan rumah itu. Anak-anak akan bergurau dengan sesama saudaranya dan orangtuanya untuk mengekspresikan betapa bahagia mereka ada ditengah keluarga itu. Saat surga dunia dalam sebuah rumah tangga tercapai, suami yang stres dengan pekerjaan kantor tentu ingin segera pulang dan menghilangkan segala penatnya dengan bercanda bersama anggota keluarga. Anak-anak yang sekolah atau bermain bersama temannya diluar tentu akan lebih memilih makan malam dirumah daripada nongkrong dan jalan-jalan tak jelas bersama temannya. Maka adalah harapan setiap istri membuat anggota keluarganya betah dirumah dan lebih memilih menghabiskan waktu dirumah daripada diluar.

Terakhir, tentunya ini sangat subyektif sekali tapi saya yakin semua setuju, bebas asap rokok di dalam dan luar  ruangan :D
Terlepas dari sumbangan cukai rokok yang besar pada devisa negara, saya lebih setuju jika memang rokok berkurang atau hilang dalam rumah saya, ya mungkin agak susah sih. Tapi harapan adalah harapan yang akan terus saya usahakan dan perjuangkan  menjadi kenyataan, alah :D
Karena dunia tanpa asap rokok itu indah wahai lelaki, cobalah mengerti isi hati para istri :D


Salam


Tuesday, July 8, 2014

Dahsyatnya Fitnah Dari Wanita

7:38 AM 0 Comments
REPOST
UJIAN TERBESAR DALAM KEHIDUPAN
Ujian yang paling besar bagi laki-laki adalah wanita. Demikian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sebuah haditsnya. Karena itu Islam memberi rambu-rambu yang sangat ketat dalam mengatur hubungan dua lawan jenis ini. Tujuannya, tentu, untuk memuliakan kedua belah pihak, laki-laki dan wanita. 

Allah Subhanahu wa Ta`ala menciptakan dua jenis manusia, Adam (pria) dan Hawa (wanita), yang secara fitrah keduanya saling tertarik satu dengan lainnya. Si pria tertarik, cenderung dan senang dengan wanita. Sebaliknya, wanita juga punya ketertarikan, kecenderungan dan kesenangan terhadap pria. Bapak manusia, Nabi Adam `alaihis salam, merasa kesepian tatkala Allah Subhanahu wa Ta`ala belum menciptakan Hawa sebagai pendamping hidupnya. Yang demikian ini juga menimpa anak cucu Adam. Ketika usia dan kebutuhan telah menuntut, mereka saling membutuhkan teman hidup dari lawan jenisnya, dan ini fitrah manusia. Karena kuatnya daya tarik pria dan wanita, agama yang samhah - agama yang mudah dan tidak memberikan beban yang berat bagi pemeluknya - ini menetapkan aturan-aturan agar keduanya terjaga dan tidak melanggar batasan Ilahi. Bila aturan itu tidak diindahkan, maka yang terjadi adalah fitnah. Fitnah ini bisa menimpa pihak pria, bisa pula menimpa pihak wanita, atau bahkan kedua-duanya. 

Yang dimaksud dengan fitnah di sini adalah sesuatu yang membawa kepada ujian, bala, dan adzab.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda tentang fitnah wanita:“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita. ” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)

"Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian berketurunan (regenerasi) di atasnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat. Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena awal fitnah yang menimpa Bani Israil dari wanitanya. ” (Shahih, HR. Muslim)

Shahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bernama Abdullah bin Mas‘ud radhiallahu `anhu berkata: “Ada seorang laki-laki mencium seorang wanita yang bukan mahramnya. Dengan penuh sesal laki-laki itu mendatangi Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengadukan maksiat yang telah diperbuatnya. Maka turunlah ayat Allah:“Dirikanlah shalat pada dua ujung siang dan akhir dari waktu malam. Sesungguhnya kebaikan itu akan menghapuskan kejelekan. Yang demikian itu adalah peringatan bagi orang-orang yang mau berdzikir (mengingat). ” (Hud: 114)Laki-laki tadi berkata kepada Rasulullah: “Apakah ayat ini untukku?” Rasulullah menjawab: “Ayat ini bagi orang yang berbuat demikian dari kalangan umatku. ” (Shahih, HR. Bukhari)

Karena terfitnah dengan wanita, seorang laki-laki ingin berzina; dan karena fitnah wanita, seorang laki-laki melakukan perbuatan yang mengantar kepada zina (mencium), padahal Allah Subhanahu wa Ta`ala telah memperingatkan:“Janganlah kalian mendekati perbuatan zina. Sesungguhnya zina itu merupakan perbuatan keji dan sejelek-jelek jalan. ” (Al Isra’: 32) 

Karena begitu besarnya fitnah antara lawan jenis ini, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah memberikan bimbingan kepada umatnya agar mereka terjaga hingga tidak terjatuh kepada fitnah tersebut. 

Di antara bimbingan tersebut adalah:Firman Allah dalam Surat An-Nuur:30-31 yang artinya:
“Katakanlah (ya Muhammad) kepada orang-orang mukmin: “Hendaklah mereka menundukkan pandangan-pandangan mata mereka dan hendaklah mereka menjaga kemaluan-kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah akan mengabarkan apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: “Hendaklah mereka menundukkan pandangan-pandangan mata mereka dan hendaklah mereka menjaga kemaluan-kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin ditutupi). Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung-kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan jangan mereka tampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (ayah mertua), atau di hadapan putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau di hadapan saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki), atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau di hadapan wanita-wanita mereka, atau budak yang mereka miliki, atau laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita, atau anak laki-laki yang masih kecil yang belum mengerti auratnya wanita. Dan jangan pula mereka menghentakkan kaki-kaki mereka ketika berjalan di hadapan laki-laki yang bukan mahram, agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan hendaklah kalian semua bertaubat kepada Allah, wahai kaum mukminin, semoga kalian beruntung. ” (An Nur: 30-31)

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanitanya kaum mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. ” (Al Ahzab: 59)
“Apabila kalian meminta sesuatu kepada para istri Nabi maka mintalah dari balik tabir. Yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati kalian dan hati-hati mereka. ” (Al Ahzab: 53)
Rasulullah mengajarkan kepada para shahabat beliau untuk memberikan hak pada jalan bila mereka terpaksa duduk-duduk di pinggirnya untuk berbincang. Beliau bersabda:“(Hak jalan adalah) kalian menundukkan pandangan, menahan gangguan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar. ” (Shahih, HR. Bukhari) 

Beliau menuntunkan kepada para wanita:“Apabila salah seorang wanita dari kalian hadir di masjid untuk shalat Isya, maka ia tidak boleh menggunakan wangi-wangian pada malam itu. ” (Shahih, HR. Muslim)


“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian ia melewati sekelompok laki-laki agar mereka dapat mencium wanginya, maka wanita itu pezina. ” (Shahih, HR. Ahmad. Lihat Ash Shahihul Musnad mimma Laisa fish Shahihain 2/9, karya Syaikh Muqbil t) 

Beliau mengajarkan kepada para laki-laki:“Hati-hati kalian dari masuk menemui para wanita yang bukan mahram!” Lalu ada seseorang dari kalangan Anshar bertanya: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu dengan ipar?” Beliau menjawab: “Ipar itu maut. ” (Shahih, HR. Bukhari)
“Jangan sekali-kali seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali wanita itu didampingi oleh mahramnya. ” Maka berdiri seorang laki-laki untuk bertanya kepada beliau: “Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk melaksanakan ibadah haji sementara aku telah tercatat untuk ikut dalam peperangan ini dan itu. ” Beliau berkata: “Kembalilah engkau temui istrimu dan berhajilah bersamanya. ” (Shahih, HR. Bukhari )

"Ditusuk kepala salah seorang dari kalian dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya. ” (Shahih, HR. Ath Thabrani dalam Al-Mu`jamul Kabir . Lihat Ash Shahihah no. 226) 

Aisyah mengabarkan tentang keberadaan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang selalu menjauh dari hal-hal yang dapat mengantarkan kepada fitnah:“Demi Allah, tangan beliau tidak pernah sama sekali menyentuh tangan seorang wanita yang bukan mahramnya ketika beliau membaiat mereka. Tidaklah beliau membaiat mereka kecuali dengan ucapan: “Sungguh aku telah membaiatmu dalam perkara itu. ” (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim) 

Ummu Salamah, salah seorang Ummahatul Mu’minin berkata: “Apabila Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah salam dari shalatnya (secara berjamaah di masjid, pent. ), berdirilah para wanita (untuk kembali ke rumah mereka, pent. ) segera setelah selesainya salam beliau, sementara beliau tetap tinggal sebentar di tempatnya sebelum akhirnya beliau berdiri. ” (Shahih, HR. Bukhari)
Rawi hadits ini berkata: “Kami memandang, wallahu a`lam, beliau melakukan hal tersebut agar para wanita yang ikut shalat berjamaah dapat kembali pulang ke rumah mereka tanpa sempat berpapasan dengan laki-laki. 

"Pernah suatu ketika Rasulullah secara tidak sengaja melihat seorang wanita maka beliau segera mendatangi istrinya Zainab untuk mengajaknya jima‘. Setelah selesai menunaikan hajatnya, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam keluar menemui para shahabat beliau, lalu beliau berkata:“Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam bentuk setan dan membelakangi dalam bentuk setan. Maka apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita hendaklah ia ‘mendatangi’ istrinya, karena dengan begitu dapat menolak apa yang ada di hatinya. ” (Shahih, HR. Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta`ala dengan rahmat-Nya menetapkan adanya pernikahan juga dalam rangka menjaga timbulnya fitnah. 

Rasul-Nya yang mulia bersabda memberi tuntunan kepada para pemuda :“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah memiliki kemampuan hendaklah dia menikah karena dengan nikah itu dapat lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan, adapun yang belum mampu maka hendaklah dia puasa karena puasa itu merupakan tameng dari syahwat”. (Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam naungan rumah tangga, seorang suami dan seorang istri diharapkan dapat saling menjaga kehormatan masing-masing. Suami dapat menjaga istrinya dan sebaliknya istri dapat menjaga suaminya. Dan masing-masingnya mencukupkan diri dengan pasangan hidupnya yang sah, tidak berpaling kepada apa yang tidak halal baginya. Ketahuilah, fitnah lawan jenis pada akhirnya dapat mengantarkan kepada zina, padahal Allah telah mengharamkan perbuatan keji ini. Dan yang perlu diketahui zina itu tidak hanya sekedar apa yang diperbuat oleh kemaluan, karena Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina. Dia pasti akan mendapati hal itu. Maka zinanya mata dengan melihat, zinanya lidah dengan berbicara, sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan. Dan nantinya kemaluanlah yang membenarkan itu seluruhnya atau mendustakannya. ” (Shahih, HR. Bukhari) 

Kita katakan dalam perkara ini “menjaga diri lebih baik daripada mengobati”. Sebelum jatuh sakit karena penyakit yang ditimbulkan oleh fitnah kemudian nantinya sulit untuk diobati, lebih baik menghindarkan diri dari fitnah tersebut dan tidak dekat-dekat dengannya. Semoga Allah menjaga diri kita… Amin! Wallahu a‘lam bish shawwab.

(Catatan: susunan hadits-hadits yang ada dalam tulisan ini diambil dari kitab Tahdzirul Fataatil ‘Afifah min Talbisaat Az-Zindaaniil Khabitsah, hal. 31-37, karya Ummu Salamah As Salafiyah salah seorang istri As Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullahu ta`ala)

source: Fans page facebook catatan cinta dari abi


Sunday, June 15, 2014

Macam-macam Persahabatan

10:52 AM 0 Comments
REPOST
7 Macam Persahabatan, Hanya 1 Sampai Akhirat.

Beberapa Ragam Hubungan Persahabatan:
1. "Ta'aruffan" persahabatan yang terjalin karena pernah berkenalan secara kebetulan, seperti pernah bertemu di kereta api, halte, rumah sakit, kantor pos, ATM, dan lainnya.

2. "Taariiihan" persahabatan yang terjalin karena faktor sejarah, misalnya teman sekampung, satu almamater, pernah kost bersama, diklat bersama, dan sebagainya.

3. "Ahammiyyatan" persahabatan yang terjalin karena faktor kepentingan tertentu, seperti bisnis, politik, boleh jadi juga karena ada maunya dan sebagainya.

4. "Faarihan" persahabatan yang terjalin karena faktor hobbi, seperti teman futsal, badminton, berburu, memancing, dan sebagainya.

5. "Amalan" persahabatan yang terjalin karena seprofesi, misalnya sama-sama guru, dokter dan sebagainya.

6. "Aduwwan" sahabat tetapi musuh, depan seolah baik tetapi sebenarnya hatinya penuh benci, menunggu, mengincar kejatuhan sahabatnya, "Bila kamu memperoleh ni'mat, ia benci, bila kamu tertimpa musibah, ia senang..." (QS 3:120).Rasulullah mengajarkan doa", Allahumma ya Allah selamatkanlah hamba dari sahabat yg bila melihat kebaikanku ia sembunyi tetapi bila melihat keburukanku ia sebarkan",

7. "Hubban Iimaanan", sebuah ikatan persahabat yang lahir batin, tulus saling cinta dan sayang karena ALLAH, saling menolong, menasehati, menutupi aib sahabatnya, memberi hadiah, bahkan diam-diam dipenghujung malam, ia doakan sahabatnya. Boleh jadi ia tidak bertemu tetapi ia cinta sahabatnya karena Allah Ta'ala.

Dari ke 7 macam persahabatan diatas, 1 - 6 akan sirna di Akhirat. yang tersisa hanya ikatan persahabatan yang ke 7, persahabatan yang dilakukan karena Allah (QS 49:10), "Teman-teman akrab pada hari itu (Qiyamat) menjadi musuh bagi yang lain kecuali persahabatan karena Ketaqwaan" (QS 43:67).


source: sharing artikel ODOJ 1315


sourcet: kartun muslimah fanpage