Showing posts with label Curcol. Show all posts
Showing posts with label Curcol. Show all posts

Friday, November 29, 2019

Untuk Negeri Yang Lebih Beradab dan Berilmu

9:17 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong..

Kemarin siang waktu saya membaca Kompas, dada langsung terasa sesak karena miris dan sedih membaca berita yang disuguhkan. Disana disebutkan bahwa Indonesia secara nyata belum siap menghadapi revolusi industri 4.0. Jangankan revolusi 4.0, menurut Bank Dunia, bangsa ini bahkan belum mampu menghadapi revolusi industri 2.0. Bukan hanya itu, Bank dunia juga menyebutkan bahwa rata-rata hasil belajar anak-anak di Jakarta masih lebih buruk dari hasil belajar anak-anak pedesaan di Vietnam. Bayangkan, jika pelajar di Jakarta saja kalah dengan pelajar di pedesaan Vietnam, apa kabar para pelajar di pinggiran seperti kampung saya dan sekitarnya? 

Sedih dan prihatin? Pasti!! Karena jika kita benar-benar mau melek melihat apa yang terjadi di sekitar kita, maka yang dikatakan oleh Bank Dunia bukanlah isapan jempol semata. Bank Dunia menyebutkan bahwa saat ini dunia sedang dilanda Learning Poverty, yaitu kemiskinan dalam belajar. Data menunjukkan bahwa 53% anak usia 10 tahun ke bawah di dunia ini tidak bisa memahami bacaan sederhana yang mereka baca. Dan sayangnya, Indonesia menyumbangkan angka sebesar 47% dari 53% itu. Dengan rincian 74% mereka tak paham akan pembelajaran sains yang mereka baca dan 77% mereka tak paham akan Matematika yang mereka pelajari(INAP/AKSI 2017). Angka yang fantastis bukan? Ya, cukup fantastis untuk kembali mengevaluasi dunia pendidikan dari dasar. 

source: Instagram @1000guru

Sekarang, coba kita tengok anak-anak yang saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar. Mungkin benar mereka bisa membaca dengan lancar, namun ternyata mereka tak mampu memahami teks yang mereka baca, meskipun itu hanya bacaan teks sederhana. Kurangnya pemahaman mendasar yang ditekankan saat di sekolah dasar, atau bahkan seringnya anak-anak ditinggalkan oleh gurunya untuk belajar sendiri di kelas, mengakibatkan kemunduran pemahaman yang signifikan. Dan hal ini terus berkelanjutan sampai merembet pada pemahaman sains dan Matematika mereka. Jangankan untuk menjawab soal atau bahkan mengaplikasikan teori dalam kehidupan sehari-hari, membaca dan memahami soal saja mereka masih kewalahan, dan ujung-ujungnya berakhir pada output pendidikan yang kurang bermutu. Pada saat output pendidikan dasar kurang menjanjikan, maka yang terjadi di sekolah menengah adalah macetnya pembelajaran karena ketidaktuntasan materi pada saat di sekolah dasar. Coba tanyakan pada mereka yang saat ini duduk di bangku sekolah menengah, berapa persen dari mereka yang hafal perkalian dan mampu menyamakan penyebut dalam penjumlahan pecahan? Atau tanyalah mereka, berapa persen dari mereka yang mampu menceritakan kembali cerita pendek yang telah mereka baca. Maka dari situ Anda akan percaya bahwa apa yang dikeluhkan guru di sekolah menengah bukan sekedar gito-gito (bohong belaka).

Setiap Orangtua Adalah Guru dan Setiap Guru Adalah Orangtua
Krisisnya dunia pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru maupun pakar pendidikan. Ada sistem yang menaungi semua ini, dan harusnya mampu menjadi pendukung bagi perjuangan para guru mendidik anak muridnya. Dan ada orangtua yang harusnya menjadi motivator utama bagi sang anak dan menjadi pengganti guru saat anak-anak tak lagi di sekolah. Kesadaran orangtua dalam mengontrol perkembangan belajar dan karakter anak menjadi faktor utama keberhasilan dalam pendidikan. Di saat bapak dan ibu guru di sekolah berjuang mati-matian memberi contoh dan membentuk karakter positif bagi peserta didiknya, tanpa teladan dari orangtua semua akan menjadi sia-sia. Oleh karena itu benar bahwa orangtua adalah guru bagi anak-anaknya dan guru adalah orangtua bagi para muridnya, karena kedua pihak inilah yang mempunyai peran penting memberi teladan dan mengajarkan pendidikan moral dan karakter bagi anak-anak. Jika salah satu dari keduanya tak lagi mempunyai kesadaran, bahkan hanya mampu memerintah tanpa memberi teladan, maka sudah dapat dipastikan keberhasilan pendidikan dengan output berkarakter dan berilmu hanya menjadi sebuah wacana belaka. Children see children do. Anak-anak melakukan apa yang mereka lihat bukan yang mereka dengar/diperintahkan. 

Jika Bank Dunia menargetkan tahun 2030 dunia pendidikan harus mampu mengurangi 27% kebutaan pemahaman dalam membaca dengan cara meningkatkan kompetensi guru SD/MI, maka harusnya setiap orangtua juga harus mampu mendukung proses perbaikan ini. Diharapkan setiap orangtua tidak hanya memasrahkan pendidikan dan karakter anak-anaknya pada guru di sekolah, namun juga mampu memberi perhatian dan teladan bagi anak-anak mereka. Guru dan orangtua harus saling bahu membahu dan bekerjasama mendidik anak-anak mereka, tidak ada saling menyalahkan atau saling menuding siapa benar siapa salah. Karena sejatinya tidak ada guru yang ingin anak didiknya gagal dan tidak ada orangtua yang ingin anaknya terhina. Semua ingin anak-anaknya berhasil meski kadang harus mendidik dengan tegas

source: Instagram @1000guru

Knowledge is Power but Character is More
Pendidikan karakter menjadi target utama dalam dunia pendidikan saat ini. Bukan hanya sebagai slogan, namun benar bahwa bangsa ini ini mengalami kemrosotan moral yang luar biasa memprihatinkan. Coba perhatikan anak usia 10 tahun hingga pelajar SMA, berapa banyak dari mereka yang masih menjunjung tinggi adab dan sopan santun terhadap orangtua/guru mereka? Berapa persen dari mereka yang tidak ngeyel saat diingatkan atau dinasehati guru/orangtuanya? Berapa orang remaja yang tidak pernah melontarkan makian, cacian, hate speech atau komentar pedas di sosial media? Dan krisis moral ini harusnya menjadi perhatian utama bagi setiap orangtua dan para praktisi pedidikan. Di saat anak-anak ini belum mampu mengukir prestasi, hal yang paling menyedihkan adalah saat mereka tak mau diajak menjadi pribadi yang baik. Diajak sholat susah, diajak ngaji emoh, dinasehati baik-baik gurunya ditantang, naudzubillah. Prestasi itu kekuatan, namun karakter lebih utama. Menjadi pintar itu modal masa depan, tapi menjadi baik itu jauh lebih penting untuk hidup dunia dan akhirat. Namun sayangnya derasnya informasi yang tak bisa dibendung belum mampu mereka pilah untuk diambil kebaikannya. 

Disinilah PR besar bagi kita orang-orang dewasa untuk menjadi teladan, melakukan kontrol sesuai wewenang dan peran masing-masing, serta tak henti-hentinya mengingatkan anak-anak untuk menjadi manusia yang beriman dan berakhlaqul karimah. Karena di tangan mereka lah bangsa ini akan berlanjut. Jika mereka tak mampu mendidik diri mereka menuju kebaikan dan ilmu, maka entah apa yang akan terjadi pada bangsa ini.
source: google
Wahai para pemuda, bangkitlah! 
Berhentilah mengutuk orangtua dan gurumu yang menasehatimu. 
Berhentilah menjadi sombong hanya dengan segelintir ilmu punyamu
Berhentilah menjadi arogan hanya karena sedikit kelebihan milikmu
Berhentilah melihat konten video tak bermanfaat untuk masa depanmu
Berhentilah menyebarkan ucapan kebencian, komentar jahat dan makian di lini sosial mediamu
Dan berhentilah menjadi malas karena hanya akan menghancurkan duniamu

Bangkitlah, hanya kalian penggerak bangsa ini untuk maju
Bangkitlah, mulailah membaca dan mencerdaskan negeri ini dengan bukumu
Bangkitlah, jadilah pemuda yang mengukir prestasi dan menebarkan kebaikan ilmu
Dan bangkitlah meneladankan karakter unggul pada masyarakatmu

Kami gurumu hanya mampu mengajarkan sedikit ilmu
Kami gurumu hanya mampu mendokan masa depanmu
Dan kami gurumu hanya mampu berbaik sangka, semoga Allah senantiasa merahmatimu

Selamat Hari Guru..semoga setiap orang mampu menjadi teladan dalam menebarkan kebaikan ilmu


Saturday, October 21, 2017

Kita dan Sepucuk Kenangan

7:13 PM 0 Comments
Setiap orang punya kebaikan yang ingin tetap ia lakukan
Setiap orang punya kebijakan yang selalu ingin ia terapkan
Setiap orang punya hati yang senantiasa ingin ia jaga
Dan setiap orang punya orang lain yang berharga baginya untuk dilindungi


Assalamualaikum...
Annyeong...
Happy wiken, pada kemana malam minggu gini kawans? Kalo saya cukup di rumah menikmati kebersamaan yang jarang terjadi hihihi..maklum saya bukan orang yang suka kelayapan dan lebih pewe di rumah meski sekedar nonton drama Korea, baca novel, browsing, sekedar nonton tivi ataupun chit chat di grup. Ngobrolin masalah chatting nih kawans, tentunya kita bersyukur banget karena kemajuan tekhnologi membuat kita dimudahkan untuk berinteraksi dengan teman-teman dan keluarga, termasuk didalamnya adalah teman lama jaman kita masih "monyet" di bangku sekolah. Banyak grup dibentuk dari alumni SD, SMP, SMA, kuliah sampai alumni pelatihan yang semuanya hampir mempunyai tujuan yang sama yaitu mempererat tali silaturahim yang sempat terputus.

source: google
Tapi tahukah kawans bahwa beberapa setan jahat kadang menyelinap masuk diantara jari-jari yang mengetik obrolan kita di grup, terutama ketika kita berada diantara orang-orang lama yang mempunyai kenangan tentang kita. Bukan saya tidak setuju dengan adanya grup-grup chatting seperti ini, saya bahkan sejujurnya seneng banget karena akhirnya tahu kabar dia begini kabar si A begitu dan sebagainya. Hanya saja terkadang perselisihan terjadi hanya karena perbedaan pandangan dari satu orang dengan orang yang lain karena perbedaan prinsip, yang pada akhirnya berujung pada kata-kata kasar yang sedikit mengandung unsur "latar belakang". Jujur hal seperti ini membuat kita jengah untuk sekedar membaca obrolan, apalagi jika harus nimbrung ngobrol.

Belum lagi ketika ada seseorang yang membuat kita mengenang kekonyolan perasaan masa muda kita, saling olok-mengolok dulu naksir siapa, dulu pacarnya siapa, dan kemudian berujung pada CLBK. Ya kalo kita baru lulus kemarin kemudian CLBK mah gak masalah karena pasti masih pada single, lha ini? Udah pada nikah tapi masih bahas gosip jaman grandong belum dikebiri sama Sembara, rempong cyintt...😂😂 Fiuh....pengen rasanya "minggat" dari grup itu, tapi kemudian di tahan selama obrolan, gambar ataupun video yang di share di grup masih sehat. Maka jadilah banyak silent reader yang mencoba menahan diri dari tuduhan sombong, belagu dan lain sebagainya 😀 Bukan sombong sebenarnya, hanya saja kami para silent reader(SR) (ketauan deh kalo bagian dari kelompok SR 😂) hanya ingin menjaga hati kami. Hati kami tetap hati manusia yang sewaktu-waktu bisa dibolak-balik jika tidak kami jaga dan kami lindungi, eaaaaaa...uhuk*dilempar botol 😂. Wong jadi SR gini aja masih di jelesin sama orang, apalagi jadi cerewet, etdah, serba salah sayahnya 😃😂

source:google
Belum lagi jika kemudian berujung pada kopdar atau reuni. Bukan saya menentang adanya reuni, hanya saja kadang reuni ini memberi persyaratan dilarang membawa pasangan yang notobene pasti akan menimbulkan banyak kejadian tak terduga, misal ketemu mantan pacar dan lain sebagainya. Yakin bisa menjaga hati? Yakin! Kalo kemudian tiap hari ngobrol di grup, yakin gak akan goyah? Yakin! Kalo kemudian dia ngajak ketemua diluar grup? Gak mau lah! Telponan? Gak maulah! Chat pribadi? Ehmmm... Nah, dari situlah setan masuk. Dan dari sinilah keputusan menjadi SR itu lebih baik. Mungkin saya terlalu picik dan naif, namun lebih baik saya dikatakan picik dan berfikiran sempit daripada saya harus mengotori hati di kemudian hari. Biarlah kemudian saya dikatakan sombong dan belagu di grup meski ketika bertemu secara tak sengaja dipasar bisa ngobrol dengan baik (lak lucu tho 😃😃😂 )

source:google
Tapi bukan berarti reuni itu tidak baik. Ada banyak hal baik yang bisa diambil dari reuni, diantaranya adalah koneksi. Selain itu kitapun bisa berbagi ilmu dari teman yang berbeda profesi, saling berdiskusi tentang ilmu yang kita peroleh, pengalaman hidup dan pandangan hidup. Belum lagi jika kita bisa termotivasi untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan bertemunya kita dengan kawan-kawan lama, mungkin inilah sejatinya inti reuni yang sebenarnya. Jujur jika harus memilih, saya bersedia ikut reuni apa maka saya akan memilih mengikuti reuni alumni *** (sensor), ****** (sensor) dan **** (sensor) 😁, selain itu ogah. Kenapa? ya..demi hati lah, apalagi hehehe...

Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga hati kita? 
"Yaa muqallibal quluub, tsabbit qulbi 'alaa dinnil islam"
Mohon maaf jika sedikit menyinggung 😌




Wednesday, January 18, 2017

Euforia Lumpia Rebung

9:31 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Anyeong...
Ceritanya beberapa hari kemarin, ada kalo sekitar semingguan, waktu itu kebetulan di rumah ada beberapa tukang yang mbetulin, dan kebetulan pula saya lagi pengen makan rebung, jadi waktu ke pasar beli rebung 2 plastik seharga dua rebuan. Murah dunk, itulah senengnya hidup di pedesaan, kalo gak "ngramban" (nyari sayur sendiri) ya dapet sayur dengan harga murce hehehe... Maka dengan niat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, punya rencanalah saya untuk membuat lumpia kering dengan isian rebung ini untuk dimakan sendiri demi keinginan tak terbendung (tsaaahh... :D) dan juga sekalian buat camilan pak tukang. Sebelumnya pernah buat gitu? Pernah tapi pake kulit instan, sementara sekarang mau bikin sekalian sama kulitnya. Tapi lagi males browsing, males juga nanya, maka akhirnya saya ngarang!

Iyes beneran saya ngarang sodara-sodara! Makanya ketika hasilnya enak, sukses lah kalo saya bilang, karena waktu dihidangkan langsung ludes tanpa sisa. Seneng dooonk...Langsung merasa euforia kek nemu daratan dari tengah lautan : EUREKA! bahaha...

Kalo dilihat penampakan lumpia pada hari penemuannya seperti ini, kalo masalah isi tentu bisa dikreasikan sendiri sesuai keinginan. Ada yang suka diisi dengan wortel dan kecambah, ada yang suka diisi dengan daging ayam cincang, dan kebetulan memang saya pengen ngisi pake rebung.




Gara-gara "resep lumpia nemu" ini saya jadi pengen bikin satu lagi blog khusus makanan, dari mulai resep yang pernah saya coba dan berhasil, review dan lain sebagainya, yah sok pengen jadi food blogger gitu hihihi... Tapi kemudian saya sadar dari lamunan dan angan-angan saya, boro-boro bikin blog lagi, ngurusin blog satu ini aja musiman, kadang musin rambutan kadang musim kemarau :D Belum lagi ngurusin sosmed, FB aja udah lumutan karena jarang dibuka, Twitter mungkin juga udah banyak sarang laba-labanya, Path, MP dan lainnya pun udah ditutup, eh malah begaya mau nambah blog, belagu amat lu kata gue :D

Maka dengan kesadaran sepenuhnya saya urungkan niat itu hehehe...sayang aja sama blog satu ini, kasian kalo jadi keteter gegara banyak yang diurus. Mending saya ngarang resep lagi, bikin DIY atau yang lain buat diposting disini kan. Oh ya yang pengen nyoba lumpia isi rebung ngasal saya bisa dicoba dengan resep dimari yes. Karena lagi malas maka bahannya pun cuma saya sendokin, jadi kalo ada yang belum punya alat takernya bisa dikira-kira ya, atau browsing aja buat mengkonversinya ke gram. Yang ini penampakan lumpia di pembuatan kedua, karena yang pertama endeuss, ada yang rikues untuk menyajikan kembali, bikinnya dua kali lipat karena selain untuk sajian tukang juga untuk dimakan sekeluarga sendiri yang kebetulan lagi ngumpul


Bahan Yang Diperlukan Adalah
 Bahan Kulit:
  •  2 cup tepung terigu serba guna
  • 1 sdm tepung kanji
  • 1 butir telur utuh
  • Sejumput garam
  • 1 3/4 - 2 cup air
  • 1 sdm minyak goreng
 Cara Membuat Kulit:
  • Kocok telur, garam, minyak goreng. Campurkan terigu, tuang air sedikit demi sedikit sampai tingkat keenceran yang diinginkan. Aduk rata sampai halus tidak bergerindil
  • Panaskan wajan teflon, oles sedikit minyak goreng. Ambil 1 sendok sayur adonan dan buat dadar. Lakukan sampai adonan habis

Bahan Isi:
  •  300 gr rebung, rebus dengan sedikit garam sampai empuk, tiriskan
  • 1 buah wortel, potong korek api
  • 100 gr daging ayam cincang
  • 1 tangkai daun selendri, iris halus
  • 1 buah bawang bombay, cincang
  • 2 siung bawang putih, cincang halus
  • 1 sdm minyak goreng
  • Gula, garam, merica bubuk secukupnya
Cara Membuat Isi:
  • Panaskan minyak goreng, tumis duo bawang sampai harum, masukkan daging ayam, masak sampai berubah warna
  • Masukkan wortel, masak sampai setengah matang kemudian masukkan rebung dan seledri
  • Bumbui dengan gula, garam, merica bubuk kemudian cek rasa. Masak sampai matang. Biarkan agak hangat
  • Ambil satu lembar dadar, isi dengan 1 sdm isian atau sesuai selera. Gulung, rekatkan sisi-sisinya dengan larutan tepung. Lakukan sampai habis kemudian goreng sampai kecokelatan

Bahan Sambal Pedas Ala Thai:
  • 5 buah cabe rawit
  • 3 buah cabe merah
  • 1 siung bawang putih, parut
  • Gula, garam, air jeruk nipis secukupnya
  • 1 sdm larutan maizena
Cara Membuat Sambal:
  • Ulek kasar cabe, bisa juga kalau hanya dirajang halus, masak semua bahan sampai mendidih kecuali larutan maizena
  • Cek rasa, tambahkan larutan maizena, masak sampai matang dan mengental
 Semoga Bermanfaat ^^ 

Tuesday, December 27, 2016

Mochi Gulung Vanila

9:33 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Masih dari makanan Jepang. Eh, sebelum lanjut ke resep sebenernya saya pengen curcol dulu tentang kue Mochi ini. Saat saya membuat ini kebetulan memang menyesuaikan tema harian Instagram uploadkompakan. Waktu itu temanya adalah kue Mochi dan karena selai cokelat kacang kesukaan tinggal seiprit maka diputuskan bikin Mochi gulung saja dibanding Mochi dengan isian. Pas saya keliling hashtag ada info menarik "kue Mochi adalah kue khas dari kota Sukabumi". Sumpee kakak saya baru tahu, saya kudet bin kuin. Selama ini hanya mikir kalo yang mirip dengan kue Mochi Jepang adalah jajanan Yangko dari Jogja jadi ketika baca beberapa pernyataan ini (Mochi kue khas Sukabumi) secara otomatis saya mikir aneh. Mulai dari orang Jepang belajar bikin kue Mochi dari orang Sukabumi, orang Sukabumi pernah diajarin bikin Mochi orang Jepang, pertanyaan apakah Sukabumi pernah segitunya dijajah Jepang? dan pertanyaan lain yang bikin saya sendiri tersenyum nyengir hahaha..Sempat ingin gugling tapi lupa karena waktu itu bareng bikin pesenan donat, jadi saya harus segera kembali ke adonan dan nguleni :D


Waktu pertama liat bentuk Mochi gulung yang terbersit difikiran saya adalah isi ramen! Jepanglah kesannya. Kemudian dari beberapa resep yang dibaca, saya coba mix and match plus menyesuaikan apa yang ada didapur. Maka saya buatlah Mochi gulung ini dengan perisa vanila. Jadi kalau kawans ingin membuat dengan aroma lain bisa diganti dengan perisa rasa lain. Yang jelas ciri khas Mochi yang legit tentu saja masih sangat kental disini, wangi dan manis...Jadi buat yang tidak terlalu suka manis, gula bisa dikurangi atau bahkan ditambah buat yang suka. Bagi saya ukuran ini sudah pas dan tidak terlalu manis

Bahan:
  • 150 gr tepung ketan
  • 50 gr tepung serba guna
  • Sejumput garam
  • 200 ml air
  • 110 gr gula pasir
  • 1/2 sdt vanila essence 
 Olesan:
  • 2 sdm air matang
  •  3 tetes pewarna makanan, aduk rata
Atau jika punya pasta pandan bisa diganti dengan pasta pandan

Taburan: 
Wijen sangrai secukupnya


Cara Membuat:
  • Larutkan gula pasir dan air, tunggu agak dingin
  • Campur semua bahan, aduk dengan whisker balon manual sampai halus tidak bergerindil
  • Tuang pada loyang yang telah dioles minyak (saya uk 20x20), kukus kurang lebih 20 menit atau sampai matang
  • Hangat-hangat beri olesan pewarna, gulung dan taburi dengan wijen sangrai. Ketika dingin potong dengan pisau yang telah diberi minyak agar tidak menempel

Dan siap disajikan...Rasanya kaki makin njarem ini, maklum habis mbenerin rumput ditanah yang cuma setengah meter tapi begaya pengen dimacem-macemin biar sok punya taman jiahahah..Selamat mencoba, enak koq Mochi gulung ini, kenyal, manis, bau harum wijen sangrainya mengingatkan pada onde-onde anget Boliem  :D

Selamat malaaammm...Wassalam

EZCooking Challenge Kepiting Hitam ala Cak Gundul (With Recipe)

8:36 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Ciee... yang nge-update blog, jiahaha..rasanya pengen ketawa geli kalo inget sindiran suami kemarin. "koq ga pernah update blog sih? iso mati plethes" katanya, dan saya jawab dengan kalem "wifi lemot, butuh oven baru keknya, oven gas biar bisa jadi bakul roti beneran, ga cuma asisten" :D :)) Asli modus hihihi...

Dengan adanya sindiran ini, akhirnya memang saya rencanakan hari ini mau update blog ini. Kebetulan drama Korea yang biasa tayang hari Senin - Selasa libur dan kebetulan hari ini ada yang pengen saya ceritakan, jadi cucok lah

Ceritanya sekitar 2 minggu yang lalu, EzCookingBaking Surabaya studio ngadain challenge masak kepiting dengan resep kepiting hitam ala Cak Gundul dari chef terkenal Reza Liem. Sebenarnya dari dulu sudah pengen banget bisa ikut salah satu challenge dari studio masak satu ini tapi selalu terbentur kesediaan bahan. Maklum, saya masih belum diijinkan keluar jauh sendiri jadi tidak sebebas dulu yang kalau butuh apa-apa bisa langsung breetttt keluar sendiri. Kemudian pas liat bahan dari challenge saat itu kebetulan semua tersedia di rumah, tinggal beli kepiting aja, maka BBM lah saya ke suami tanya bisa apa ga beli kepiting, pertama untuk bapak yang kebetulan dalam proses pemulihan setelah sakit dan kedua buat ikutan lomba masak kata saya. Dan suami bilang "iya gampang nanti tak cariin yang bertelur aja biar besar enak". Pucuk di cita ulampun tiba, Jum'at malam suami pulang dengan kepiting besar-besar dengan harga yang spesial pula, murce cyintt...(coba suami mau digratisin pasti lebih seruu hihihi *otak emak-emak :D )
Kemudian paginya dimasaklah itu kepiting, sebagian untuk asem-asem kepiting buat bapak, sebagian buat lomba dan sebagian dimasak asem manis buat ponakan. Jadi ini judulnya restu suami dan niat baik menyenangkan hati orangtua, Alhamdulillah bisa dapet juara 3. Aseliikk ga nyangka, karena para master UK ikut, udah jiper duluan rasanya. Hadiahnya kompor gas portable merk TECSTAR yang keren, berat dan mewah. Kayaknya Allah tau banget dech kebutuhan saya, kebetulan memang mau beli kompor karena yang lama sudah lamaaa banget keknya :D

diambil dari akun Instagram @ezcookingbaking

Selain bersyukur karena dapat hadiah, saya juga seneng karena bisa merasakan masak ala chef  terkenal. Rasa dari masakan ini disinyalir seperti rasa yang dihidangkan di restoran aslinya, dan memang rasanya enak, gurih, manis dengan sedikit pedas merica di akhir rasa (kalau yang tidak suka merica bisa dikurangi kadarnya). Jadi kalau kawans pengen nyoba masak kepiting dengan mudah dan cepat, saya sangat ngerekomendasiin resep ini. Saya bagi resep dan caranya di bawah ya..


KEPITING HITAM ala CAK GUNDUL
Source : Reza Liem
Bahan: 
  • 2 ekor Kepiting 

Bahan Saus:
  • 3 siung bawang merah
  • 5 siung bawang putih
  • 3 sdm saus tirsm
  • 1 sdm gula
  • 2 sdm arak fermentasi tape (optional dan saya skip)
  • Secukupnya raja rasa
  • 1 sdm margarin
  • Secukupnya garam
  • Secukupnya merica bubuk
  • 1/2 sdt chicken powder
  • 1 sdt kecap manis
  • 5 gr jahe
  • 10 sdm air
  • 1 batang daun bawang pre, iris menyerong 


Cara Membuat:
  • Bersihkan kepiting (sikat, cuci, tusuk perutnya, buka cangkangnya, guyur air mengalir) dan rebus sampai matang
  • Haluskan bawang merah, bawang putih dan jahe
  • Panaskan penggorengan dan masukkan margarin
  • Tumis duo bawang dan jahe sampai harum, masukkan daun bawang pre
  • Masukkan saus tiram, raja rasa, kecap manis, kemudian tambahkan air
  • Bumbui dengan gula, garam, chicken powder dan merica bubuk 
  • Masukkan arak tape, aduk hingga harum
  • Masukkan kepiting, aduk rata dan biarkan bumbu meresap sempurna, lalu siap disajikan


Waktu saya hidangkan buat brunch suami sebenarnya agak ragu, karena suami adalah pecinta makanan pedas garis keras, sementara masakan ini bukan termasuk didalamnya. Tapi unbelievable, ternyata suami suka dan nambah nambah nasi :D dan bilang "Ini persis kek saus udang yang kita makan di alun-alun Lamongan, ga pedes tapi enak ga bikin eneg".  Saya waktu itu emang ga mesen udang ini jadi ga tau juga hihihi..
Pokoknya recomended banget lah resep ini, mudah, cepat, praktis dan yang penting enaaaakkk

Monday, August 22, 2016

KuasaMU

2:07 PM 0 Comments
Yaa Rabb ku, Yaa Rahman Ya.. Rahim...
Ketika hati sempat diombang-ambingkan oleh lisan-lisan makhlukMU
Berbagai keajaiban disekitarku terjadi dengan seijinMU
Membawa kembali keteguhan hati yang selama ini memudar
Memantapkan langkah menunggu ketetapanMU dengan penuh kesabaran dan ketawakkalan
Seolah ingin KAU tunjukkan padaku bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan jika aku bersamaMU

Yaa Allah, Yang Welas dan penuh Kasih..
Ketika jiwa mengalami pasang surut karena perhitungan manusia
KAU tunjukkan bahwa KAU melampui segala ketidakmungkinan dan kefanaan ilmu manusia
KAU hapuskan seketika gelisah itu dengan menunjukkan bahwa kemampuanMU lah yang utama
IlmuMU jauh diatas segala perkataan dan keputusan makhlukMU

Yaa Robbi...
Betapa naif dan kerdil diri ini menangis dan bersedih dengan ketetapanMU tanpa tau kehendakMU
Betapa tak bersyukur hati ini dengan rencanaMU dan segala nikmat yang akan KAU berikan padaku
Kau beri banyak duri untuk membuatku menjadi pribadi tangguh dan mawas diri
Tapi aku menjadi hamba yang meragukanMU tanpa mau tau bahwa diujung sana terdapat bunga yang mekar semerbak menantiku

Yaa Allah...
Ampuni aku yang terlalu sombong mencoba menghakimiMU wahai dzat Yang Maha Adil
Ampuni aku yang terlalu angkuh meragukanMU saat KAU berikan kejadian luar biasa yang tak semua orang KAU beri kesempatan melaluinya
Dan ampuni aku karena  terlalu lemah hati ini untuk meyakiniMU akibat lisan-lisan makhlukMU
Sungguh diri ini hanya segumpal darah yang selalu goyah dengan hembusan ujian dan bisikan setan
Tetapkanlah hati ini bersamaMU dan meyakini segala ketetapanMU
Karena tak satupun rencana dan ketetapanMU menjadikan buruk kehidupan hamba-hambaMU


Monday, May 16, 2016

Privasi vs Publikasi

11:41 AM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...

Nulis tentang privasi dan publikasi takkan jauh dari yang namanya media dan internet. Apalagi internet saat ini bukan lagi hal baru, bahkan bagi sebagian orang internet adalah sebuah kebutuhan. Ngomongin tentang internet, tentunya tidak lengkap jika kita tidak ngobrolin sosial media (lagi). Ada begitu banyak sosial media mulai dari Facebook (FB), Twitter, Pinterest, Link In, Path, Instagram, G+ , Foursquare, two, dll. Yang bahkan sampai BBM pun sekarang ini sudah hampir mirip dengan sosial media ketimbang aplikasi chatting

Sebenarnya jauh sebelum hadirnya sosial media macam Facebook dan Twitter, kita sudah mengenal Hi5, Friendster (FS) dll yang juga merupakan beberapa sosmed yang sempat ngehits di jamannya. Bukan hanya terkoneksi dengan teman-teman yang dikenal, bahkan saya dulu sempat punya teman dekat semacam pengganti korespondensi surat pos dari sosmed ini. Hanya saja karena perkembangan yang begitu cepat, mereka banyak ditinggalkan dan beralih ke sosmed lain yang menawarkan beragam fitur dan kemudahan akses. Namun apapun sosmednya, intinya mah sama aja, sharing!

source : google.com
Jika dulu kita main FS paling banter kita ngeblog, sharing foto, ngasih testimoni atau sekedar inbox dan chatting, jaman sekarang hampir semua sosmed memiliki layanan update status. Mulai dari yang bisa diketik semua yang pengen kita omongin, emoji warna warni, update lokasi dengan check in, update foto bahkan video dll, yang hampir bisa dikatakan semua aktivitas kita kalau mau diposting di sosmed pun bisa, dengan segala fasilitasnya. Tapi pertanyaannya, "emang mau hidup situ dari bangun tidur sampai tidur lagi diumumin ke khalayak ramai"? Eh tapi  emang ada lho fitur di salah satu sosmed itu yang menyediakan fitur sleep and awake buat ngasih tau ke dunia kalo saat itu kita mau tidur atau bangun. Gak penting banget kan masalah tidur aja diumumin, etapi saya salah satu mantan penggunanya dink, maklum pernah alay wkwkwk...

Bagi sebagian orang, keberagaman fitur ini menjadi surga karena mereka akan lebih mudah menyampaikan informasi atau artikel yang ingin mereka bagi melalui sosmed. Atau bagi yang memanfaatkan sosmed untuk mengembangkan jaringan dan berjualan, fitur semacam ini kadang memang sangat membantu dan bahkan mungkin dibutuhkan. Tapi bagaimana dengan sebagian orang yang hampir tak punyai tirai pembatas antara mana yang perlu dipublikasi dan mana yang harus tetap menjadi privasi? Mungkin timeline akan menjadi tempat curhat bagi dia, laporan langsung kegiatan dia bak sehari bersama selebritis, foto-foto selfie dia, atau yang paling parah adalah sumpah serapah dan makian dia untuk orang lain yang bisa jadi bermasalah dengan dia, Astaghfirullah...

Kalo misal sehari dua hari kayak gitu, mungkin pengguna lain hanya akan diam, tapi kalau misal keseringan? Duh, ga cuma pengen nge-unfoll tapi juga pengen nge-unfriend deh, kayaknya terhubung dengan dia di sosmed ga ada manfaatnya sama sekali. Bahkan silaturahmi yang sebelumnya ga ada masalah tiba-tiba jadi bikin renggang dan ilfil karena tingkah dan gaya dia dalam bersosmed.

Update status buat curhat sebenarnya bukan masalah, tapi kita juga harus pinter-pinter nyeleksi masalah mana yang bisa di share sehingga mampu mendatangkan pelajaran bagi orang lain atau masalah mana yang harus menjadi privasi karena bisa jadi dengan kita meng-update nya malah akan membuka aib kita sendiri atau bahkan orang lain. Hal ini akan beda lagi jika kita curhat misal masalah penipuan belanja online. Kalau seperti ini bahkan kita kudu nge-share, memberi info dengan jelas dan detil tentang tersangka agar tak ada lagi orang lain yang bernasib sama.

Tapi kalau misal yang dicurhatin malah masalah keluarga, entah sedang berantem atau sekedar pamer kemesraan di sosmed, kayaknya yang nulis status perlu diberi perhatian lebih deh. Karena dari beberapa artikel kesehatan yang pernah saya baca, banyak dikatakan seseorang yang lebih sering ngeksis di sosmed dengan segala keluh kesah dan curhatnya cenderung kurang mendapat perhatian dari orang-orang disekitarnya. Nah lho! Jadi inget jaman dulu masih suka selfie, suka update status sana sini, emang bener yang dikatakan, mungkin saya butuh sekedar pengakuan dan diperhatikan kalau saya ada melalui status-status saya. Lantas bagaimana kita bisa setidaknya mengerem hal tersebut?

foto sponsor :D
Dari pengalaman pribadi, cara paling ampuh yang pertama untuk menghindari hal tersebut adalah dengan mau lebih banyak/sering ngobrol dengan orang-orang disekitar kita, menjauhkan hp saat kita bersama keluarga dan lebih banyak meluangkan waktu untuk hal positif lain yang lebih produktif. Sebenarnya kalau kita mau seperti itu secara otomatis rintihan hati itu akan menjauh dari yang namanya kolom update status. Saat kita ada masalah biasanya kalau ada temen curhat, entah sahabat, orangtua atau pasangan maka kita akan curhat ke mereka, bukan hanya untuk sekedar "berteriak" namun juga lebih pada keinginan untuk diperhatikan dan dipeluk dari keterpurukan. Beda lagi saat kita tak punya orang yang bisa diajak bicara atau sekedar memperhatikan kita, maka serentetan tangisan dan curhatan bisa jadi membanjiri timeline sosmed untuk melegakan hati kita, bener kan?

Karena sebenarnya saat kita membutuhkan perhatian namun lari ke sosmed, kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Maunya sih diperhatikan, eh ternyata bukan hanya membuka aib malah ada yang nyinyir. Ada loh kawans yang kayak gini, ada....

Tapi gimana kalo ternyata kita jauh dari keluarga atau sahabat? Telpon jendral! Kalo perlu video call deh, sekarang kan jamannya BBM, line, whatsapp, skype, masa iya jarak jadi hambatan. Jangan nunggu orang lain ngomentarin status kita baru kita mewek nangis bombay cerita. Hadeww...pliss deh!

Cara kedua adalah dengan memanfaatkan kolom status buat nge-share hal lain yang lebih positif. Misal info, artikel, karya kita dll. Bukan melulu harus tentang agama, kesehatan atau bahkan jualan. Banyak hal misal sebagai wanita kita berbagi resep, tips merawat rumah, parenting, drama korea (eh :p ), film, berbagi kisah teladan, menulis sejarah yang dikumpulkan dari berbagai sumber, info lowongan pekerjaan, info beasiswa, info pendidikan, dan masih buanyak yang lain. Bahkan hal remeh seperti nge-share gimana cara menyetting privasi di sosmed aja itu bisa jadi bermanfaat bagi yang lain. Ada buanyaaaakkk banget hal lain yang bisa kita bagi selain kehidupan pribadi dan masalah-masalah kita, coba melek lebih lebar buat melihat biar keliatan. Kalo mau curhat, sebulan sekali atau seminggu sekali atau dua hari sekali deh biar timeline ga penuh sama curhatan. Boleh-boleh aja koq curhat asal ga keterusan.

Begitu pula masalah selfie, kalo ngepost foto selfi sehari sekali atau dua kali mungkin oke lah. Lha tapi kalo baru buka instagram, dari timeline paling atas sampai paling bawah isinya satu orang selfie apa ga eneg pengen segera nge-unfoll tuh, ckckckc...ada makhluk Tuhan kayak gini, adaaa....kemudian saya unfoll, maafkan heuheueheu...

Mau foto selfie sampe jutaan foto silahkan tapi buat ngepost di sosmed yang bisa dikatakan masyarakat maya, yo jangan sampe semua-semuanya dunk, bisa sawanen yang liat :D

Berlaku pula untuk mereka yang jualan atau mungkin kampanye, ya jangan terus-terusan ngiklan lah. Jangan sampai timeline rusuh hanya karena postingan kita dengan hal-hal itu aja. Karena sejatinya sosmed itu penghubung dan penyambung silaturahmi, bukan hanya buat jualan atau kampanye saja. Kasian kan temen lain yang bisa jadi ketinggalan info hanya karena timeline ketutup dengan iklan jualan? 

Saya punya seorang teman baik, dia menjadikan sosmednya sebagai salah satu fasilitas berjualan buku dan mainan anak. Tapi dia berjualan dengan sangat elegan, patut diacungi jempol dan bener jika dia dapet reward jalan-jalan ke Korea dengan usahanya ini. Saat dia menggunakan sosmed dia memang jualan, tapi itu diimbangi dengan berbagai info dan tips bermanfaat yang dia bagi kepada audience. Maka siapapun takkan pernah menggerutu jika kadang kali ada iklan promo atau diskon dari produk jualannya, karena dia mendatangkan manfaat dengan pengetahuannya.

source : google.com
Lalu bagaimana dengan ibadah, kan ada tuh yang nyetatus atau check ini wara wiri tentang kegiatan ibadah mereka? Doakan segera insaf macam saya ini juga butuh doa agar segera insaf biar jadi orang  yang enggan membahas masalah ibadah di status sosmed wkwkwk... Karena ibadah itu privasi, urusan ridho, bukan urusan nama yang ujung-ujungnya jatuh pada riya' meskipun itu hanya sebesar atom, naudzubillah. Kalau mau dakwah pilihlah cara yang paling halus, jangan sampai membuat kita terlihat sombong, pamer atau bahkan menggurui.

Eh tapi ada juga lho yang bilang "my sosmed my rule". Itu ga salah koq, emang bener dunia kita harus sesuai dengan prinsip kita, tapi bukan berarti menolak mentah-mentah kritikan orang lain kan? Dia yang memberimu kritik, apalagi lewat jalur pribadi berarti mempunyai perhatian lebih terhadapmu yang bisa jadi ga diperhatikan orang lain. Hargai aja dan kalo perlu mungkin sedikit berkaca, bener ga sih yang dia katakan. Tapi kalo dia ngritiknya macam haters yang asal njeplak di depan umum yaaa... salam, dia mah niatnya ga ngritik tapi ngehina! Pasti semua bakal sakit hati kan kalo tau-tau ada yang nyinyir di status, sok-sokan ngritik tp aslinya ngece alias menghina. Kalo ketemu orang kek gini, udah deh black list bagi saya. Sama halnya saat kita tak ingin diperlakukan seperti itu, maka pesan sponsornya adalah: jangan seperti itu, mengkritiklah dengan cara elegan, kalo emang bahasannya sensitif mending di japri aja jangan koar-koar ceramah macam pak ustadz.

Jadi intinya, mari kita melek kembali agar bisa memilih dan memilah masalah mana yang butuh publikasi dan mana yang harus tetap menjadi privasi. Agar nyaman saat bersosialisasi dan berbagi di sosmed. Karena sosmed hanyalah media dan fasilitas, mau menjadi sesuatu yang bermanfaat atau tidak semua tergantung penggunanya. Wallahu'alam

Thursday, February 11, 2016

Duka Diantara Raja Taejong dan Raja Sejong Yang Agung

1:27 PM 1 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Six Flying Dragons, satu dari drama Korea bergenre saeguk yang membuat saya "gila" karena penasaran kelanjutannya, terkesima dengan karakter tokohnya dan akhirnya membuncahkan niatan membaca setidaknya sejarah umum kerajaan Joseon dan Korea, meski sebenarnya saya sangat ingin membaca buku "Babat Dinasti Joseon" secara langsung. Tapi tak apalah, yang penting rasa penasaran ini sedikit terobati sambil menunggu episode demi episode drama tersebut ditayangkan stasiun SBS, Korea.

Adalah Lee Bang Won (Yi Bang Won) yang selanjutnya menjadi raja ketiga dinasti Joseon, Raja Taejong, membuat saya benar-benar mengagumi sosok cerdas, cerdik, pintar dengan segala bentuk strategi dan pemberani meski ilmu beladirinya terbilang pas-pasan. Saya mengagumi Lee Bang Won loh disini bukannya Yoo Ah-In aktor si pemeran dalam serial Six Flying Dragon, karena memang dalam drama, saya selalu menyukai si artis berdasarkan peran, kalo keren di karakter ya suka, tapi kalo besoknya dia ganti peran dan gak kece ya ogah, thats me :p

 
source : google.com
Dikisahkan kehidupan anak ke-5 Jenderal Lee Seung Gye (Raja Taejo - raja pertama Joseon) sejak masih anak-anak hingga dia tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan mampu survive dalam segala kondisi. Disini saya mulai menelusuri biografi beliau ini dari masa anak-anak hingga menjadi raja dan wafat. Semakin mengetahui semakin kagum akan karakternya, namun satu kelemahan diantara banyak kelebihannya adalah beliau memimpin dengan bijak namun disertai dengan tangan besi untuk menstabilkan negaranya (jadi ingat riwayat pak Harto). Saya yang udah cinta mati sama ni orang jelas langsung elus-elus perut :D

Akhirnya sampailah saya pada kisah anak ketiga dari raja Taejong ini, yaitu raja Sejong yang agung. Raja Sejong banyak mewarisi kecerdasan dan kebrilianan ayahnya, maka tak heran jika dialah anak kesayangan dan juga paling berhak mewarisi tahta kerjaan dibanding yang lain. Namun raja Sejong jauh lebih bijak, low profile dan banyak menciptakan gebrakan diberbagai sektor, meski raja Taejong pun tak kalah dalam hal ini. Maka tak heran jika beliau ini yang mendapat gelar "Raja Yang Agung" atau "Raja Besar" kedua setelah Raja Gwanggaeto dari kerajaan Goguryeo (salah satu kerajaan tertua di Korea), karena pada masa pemerintahannya banyak diciptakan kemajuan seperti penciptaan huruf hangeul, ditemukannya banyak kemajuan iptek seperti jam matahari pertama dan alat pengukur hujan pertama dari ilmuwan yang selalu beliau dukung yaitu Jang Yeong Sil.

source: google.com
Lalu diantara banyak kekaguman tersebut apa yang membuat saya berduka? Korea sebagai bangsa yang besar, meski telah menjadi negara maju dengan segala kelebihannya disetiap sektor, dalam dunia perfilm-an mereka tak lupa menyajikan sejarah bangsanya dengan sangat detil dan rinci, sesuai aslinya. Saya hanya membayangkan, seandainya Indonesia yang notabene penduduknya muslim, para praktisi perfilm-an yang sebagian orang islam membuat sejarah Indonesia dalam serial TV nya dengan sedetil itu. Atau yang lebih saya harapkan adalah membuat serial TV yang menceritakan tokoh besar islam, para pemimpin, jenderal besar, atau para ilmuwan. Mulai dari Ibnu Sina, atau lebih dikenal barat sebagai Avicena, Al Khawarizmi, sang ahli matematika, jenderal besar dan juga pemimpin ksatria Salahuddin Al Ayyubi, atau yang lain, bukankah sangat banyak sekali yang bisa di ceritakan?

Andai Diberikan serial TV seperti ini, tak ada lagi galau mikir kuota internet buat download serial Korea yang lebih seru dibanding nonton sinetron Indonesia. Tak ada lagi miris melihat dan mendengar balita nyanyi lagu cinta dari sinetron remaja yang ditayangkan saat anak harus belajar. Dan tak ada lagi kebingungan mencari sosok teladan buat anak-anak agar menjadi sosok yang kita mau, bukan sosok sinetron. Ah andai saja rumah produksi beserta pemilik dan kru nya mau sedikit saja seperti itu mungkin bangga diri ini akan serial TV dalam negeri. Maafkan jika sampai saat ini saya lebih memilih berburu drama Korea dibanding nonton sinetron TV. Wallahu'alam

diolah dari berbagai sumber

Thursday, December 31, 2015

Kata di Akhir Cerita

1:58 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Penghujung tahun 2015.
Sepertinya sudah lama sekali lupa dengan blog saya ini. Hihihi...maafkan bahkan belum sempat meneruskan beberapa review yang sempat terlewat. Di hari terakhir 2015 ini izinkan saya sedikit curhat ya kawans. Mungkin tidak terlalu penting, tapi perlulah ditumpahkan agar tidak menjadi bisul yang nantinya akan sakit jika meletus :D

Telah lewat setahun lebih dimana masa kritis itu berlalu, masih sedikit terjal jalan dalam hidup itu sudah biasa. Namun yang begitu saya sadari bahwa:

"Banyak diluar sana yang mungkin sedang dalam masalah, sedih, kecewa dan cemas. Tapi mungkin tidak semua dari mereka mengeluh pada orang lain, mungkin mereka tidak menunjukkannya pada dunia, mungkin mereka tidak menuangkan perasaan mereka di sosial media, atau mungkin mereka bahkan tidak menangis. Bisa saja mereka hanya hampir menangis, hampir gila, hampir putus asa dan hanya menceritakan pada orang terdekatnya saja, orangtua atau pasangan mereka.

Dan banyak juga diluar sana yang mungkin sedang tertawa, bergembira dan dipenuhi kebahagiaan. Tapi mungkin tidak semua dari mereka mengumkannya pada dunia, tidak semua mengeksposnya di sosial media atau bahkan mereka hanya tersenyum dalam bahagianya. Bisa saja mereka mementingkan syukur atas kebahagiaannya dan berusaha memenuhi 'amunisi' nya sebelum mantap melangkah ke bab berikutnya.

Diamnya seseorang bukan berarti dalam hidupnya tidak ada cerita. Setiap orang memiliki perjalanan di dunia ini dengan ceritanya masing-masing. Ada suka ada duka, ada sedih ada tawa, ada cinta ada benci, karena semua itu adalah satu paket yang dinamakan HIDUP."

Dalam kepingan kalimat yang ada dalam novel Sang Pemimpi, mozaik 5 halaman 65, "seperti kata Leo Tolstoy : Tuhan tahu, tapi Tuhan menunggu" adalah satu diantara banyak harapan bagi para manusia yang mengaku hidup. Karena hidup artinya berjuang. Berjuang untuk dirinya, hidupnya, cintanya, jodohnya, keluarganya, atau bahkan kesuksesannya. Dalam setahun perjalanan seorang manusia sudah pasti dia akan menangis akan apa yang ia nanti namun tak kunjung datang, menangis karena kecewa atas hasil yang telah ia usahakan, dan mungkin putus asa atas usaha yang tak kunjung menghasilkan. Tapi percayalah, Allah menetapkan qada' atas hambaNYA dengan apa yang terbaik. Bukan hanya butuh bekal doa dan usaha saja, tapi keyakinan pada diri manusia bahwa Tuhannya akan menolongnya, adalah kunci utama manusia itu akan terebas dari kesedihannya.

Awal 2016, semoga setiap dari kita akan mendapatkan kebahagiaan kita. Meski kadang hambatan dan kesedihan melanda, yakinlah bahwa semua kan berakhir dan kesedihan itu akan berganti dengan senyuman.

Berbahagialah. Karena bahagia adalah caramu mensyukuri atas apa yang Allah berikan, namun menangislah jika memang itu membuatmu lega. Namun selepas kau usap airmata itu, bangkitlah dan siapkan mantapnya langkahmu menjemput bahagiamu.


Mojokerto, 31 Desember 2015, 13:58

Friday, October 2, 2015

Menggugat Wanita (Lagi)

2:32 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Mau curhat nih. Duh ni orang makin kesini kenapa makin cerewet buat curhat ya? hihihi maapkeun saya kawans, soalnya dari kemarin saya denger banyak cerita sana sini kembali menyoal tentang hak dan kewajiban wanita sebagai istri, diluar tanggung jawab dia sebagai seorang ibu. Mulai dari teman sampai tetangga, ternyata masih aja ada yang meributkan masalah peran istri dan tugas kenegaraannya (tugas rumah tangga maksudnya).  Mungkin saya kurang tahu tentang ayat ataupun kitab yang membahas penuh dan detil apa saja tugas istri dalam mengurus rumahnya secara fisik. Apakah hanya memasak, hanya mencuci, hanya membereskan rumah, atau bahkan mungkin semua itu bukan tugas dia sama sekali.

Memang saya pernah denger dan baca pada beberapa artikel islami kalo tugas-tugas rumah tangga seperti masak, nyuci baju, nyetrika, ngepel, bersih - bersih dan lain sebagainya itu bukan tugas istri, melainkan tanggung jawab suami, entah itu dia lakukan sendiri atau memperkerjakan seorang asisten rumah tangga (ART). Awalnya sih saya agak kaget juga dengan fakta ini, namun dengan dukungan dalil dalam artikel tersebut mau tidak mau memang saya bisa menerimanya. Apalagi ketika mendengar riwayat sayyidina Umar bin Khattab saat beliau ditanya mengapa beliau diam saat istrinya marah, beliau menjawab "karena dialah istri dan ibu dari anak-anakmu yang mengurus segala keperluanmu, membuat roti (dalam hal ini masak, red), mencuci bajumu dan menyusui anak-anakmu meskipun itu bukan tugasnya"  (sebuah riwayat yang diceritakan dalam program mozaik islam transTV).  Maka kemudian saya tak lagi heran ketika tetangga saya yang notabene gadis pesantren, yang setelah nikah ternyata tak mau melakukan tugas rumah tangga itu dengan motif bahwa semua itu bukan tugas seorang istri, dan saya pun tak kaget lagi saat suaminya yang juga orang pesantren mengamininya. Iyalah mereka sama-sama paham, mungkin kalo kita yang gak paham ini jadi suaminya, mungkin bakal marah, and well.. his husband enjoy it.

sumber gambar : etsy. com

Terlepas dari semua itu, saya pribadi sungguh kagum dan bangga dengan para istri dan ibu yang sanggup mengurus pekerjaan rumah tangganya sendiri ditambah dengan mengurus dan mengasuh anak-anak mereka. Saya salut dengan wanita karir yang berangkat pagi pulang sore, bahkan kerja shifting namun masih sanggup mengatasi segala keribetan di rumah dengan tangannya sendiri. Dan sayapun bersyukur untuk para istri dan ibu yang telah dibantu seorang ART atau babysitter dalam tugasnya, bersyukur mereka diberi keringanan oleh suami mereka. 

Dan dalam pandangan saya, sebenernya menjadi seorang wanita itu sungguh beruntung. Iya, beruntung banget! Bukan hanya dia dibebaskan dari tugas mencari nafkah untuk keluarganya, tapi dia juga diberi keringanan. Keringanan apa? saya pernah ingat ada hadits yang secara umum bunyinya begini  "seorang istri yang taat pada suaminya dan melakukan sholat lima waktu dan puasa ramadhan, maka dia bebas memilih dari pintu surga mana dia akan masuk"  saya agak lupa redaksi kata dan sumbernya tapi saya ingat benar bahwa hadits ini sahih, duhhh maafkan saya gak ahli kalo masalah dalil gini. Tapi kalo kita baca sekilas aja maksudnya pasti kita akan bilang bahwa wanita itu sungguh beruntung. Dengan tugas taat, sholat wajib dan puasa wajib aja dia udah bisa masuk surga, sementara lelaki!? hmmm... tau sendiri kan ya, maka jangan sepelekan tugas lelaki karena emang tugas mereka berat, tanggung jawab mereka dunia akhirat. 

Maka saya sendiri punya pandangan bahwa sebenarnya menjadi istri adalah kesempatan yang seluas-lusnya untuk mencari tambahan pahala. Suami, anak-anak dan rumah tangga kita adalah ladang pahala paling mudah dan paling dekat yang bisa kita temui 24 jam. Bisa dibayangkan donk, mulai sebelum subuh kita bangun kita bisa sholat tahajud, dilanjut nyiapin sarapan, nyuci baju, bersih-bersih dan lain-lain, coba hitung sudah berapa banyak pahala yang terkumpul jika kita tulus dan ikhlas melakukannya. Belum lagi pekerjaan lain yang kita lakukan di siang dan malam hari ditambah ibadah sunnah seperti sholat dhuha, puasa senin kamis dsb, mungkin kita bisa ngalahin pahala para kaum lelaki tuh. Gak ada salahnya koq kalo kita melakukan semua sendiri, gak usah malu pun gak usah gengsi, malah sebenernya kita harus bersyukur diberi ladang pahala yang luas oleh Allah. Kalo masih mikir gengsi inget deh riwayat sayyidah Fatimah, putri Rasulullah. Beliau mengerjakan pekerjaan rumah tangganya sendiri sampai tangannya kasar, dan juga mengasuh anak-anaknya sendiri sehingga terdidik dengan baik. Beliau gak mentang-mentang putri rasul kemudian tidak mau melakukan pekerjaan rumah tangga, malah beliau inilah yang akhirnya banyak menjadi motivasi dan inspirasi wanita muslimah saat ini. 

Kamu bisa bilang gitu karena sekarang kamu udah gak kerja diluar? pernah loh ada yang ngatain saya gitu. Saya mah kalem aja. Dia kan gak tahu kalo pas saya masih kerjapun masak, bersih-bersih dan nyuci semua saya kerjain sendiri, kalo nyetrika aja  tuh saya kasih londri karena emang saya sendiri gak sanggup. Jangankan pas masih kerja, sekarang aja pas saya masih off gini, urusan nyetrika saya masih manggil orang buat bantu nyetrika aja hihihihi :p

Setiap orang itu punya kemampuan yang beda, kalo emang kita gak mampu, ya bilang aja sama suami, minta dibantu ART buat menyelesaikan tugas negara itu, gak usah sok jadi super woman deh. Apalagi yang kerja diluar ditambah udah punya anak, duhhh.. mending jaga stamina deh. Urusan kerja biar diserahin orang, staminanya buat ngobrol sama suami dan anak aja biar gak sampai kehilangan waktu buat dekat dengan mereka. Ada masa dimana kita bisa melakukan semua sendiri tanpa kehilangan kebersamaan dengan keluarga namun ada juga waktu kita harus mengalah dengan perkerjaan karena faktor kesehatan dan lainnya. Gak usah maksa!Jangan pernah memaksakan diri buat melakukan semua sendiri hanya biar dibilang super woman, super mom, atau multitalented woman. Semua itu gak ada artinya koq, yang penting mah sama-sama nyaman kalo dirumah itu, biar kerasan dan gak jadi beban, tul gak?  as simple like that


sumber gambar : mobavatar. com

Wednesday, September 30, 2015

Tentang Eksistensi dan Sosial Media

9:05 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Akhir bulan suami pulang malam karena kejar setoran, alhasil kerjaannya buka laptop browsing sana sini, ngeyutub drama korea, buka sosial media sedikit lama dari biasanya sampai akhirnya ngernyitin dahi karena postingan beberapa hari ini di sosmed biru itu. ini ceritanya mau curhat? iye nek, eike mau curhat ngalor ngidul ni malam daripada bengong kekenyangan sambel ikan asin tapi suami gak juga muncul dihadapan jiahahaha...

sumber gambar : liputan6.com
Jadi begini, usia saya ini kan udah diambang kepala 3, secara umum sih masih agak muda lah dibanding yang lain yang udah kepala 3 lebih separo atau seperempat, selebihnya saya mah udah tuwir kalo nonton acara klasikanya ar*kTV, secara saya nyadar betapa lagu-lagunya itu kondang dijaman saya SD atau SMP, sadar benerrrr kalo semakin kesini saya semakin tuwir, tapi semakin kece (gilanya) :p yah, begitulah pembelaan orang yang mendadak setres karena tiap hari kepala pusing dan punggung sakit, daebak...mulai ngelantur lagi hihihihi..sorry sorry.. Mari kembali ke keyboard!

Ngomongin umur, iyes, saya gak nyangkal, saya dulu pernah alaiiiii, pernah jablaiiii sampai semua-semua di tulis di status, semua hal detil akan di update as long as I breath wkwkwkw...maklum, masih ababil, masih butuh tatih tayang dan butuh asupan gizi :p

Jadi demikian halnya saya dan teman-teman lain yang saya pantau (alah :p ) kayaknya senasib sama saya, semakin tuwir semakin jarang nyetatus, jarang ngaplod2 poto menye-menye selpi ala ababil atau meminimalisir posting yang berbau mesra-mesra karena memang perlahan tapi pasti kami tahu mana yang boleh dicurhatin buat komsumsi publik mana yang tidak. Ya...meski tidak semua akan setuju sih dengan pendapat saya, karena memang tiap orang beda jadi gak mungkin saya maksa setiap orang bisa menerima pendapat saya.

Tapi, sepertinya rasanya gimana gitu ya kalau setiap detil hari kita diceritain runuuuuuuuutttt bener sampai seolah kadang saya malu buat bacanya. Nyetatus daily routiine gak ada yang ngelarang sih, suka-suka aja, tapi kalo tiap hari di status detil di sosmed gitu koq rasanya jadi konyol, konyol kayak kurang perhatian aja sih menurut saya, maafkan buat yang tidak setuju.

Tapi memang tidak semua begitu, ada yang memang pengen ngeksis aja atau yang alasannya kece tuh, pengen share info agar yang lain bisa mengambil pelajaran atau contohnya, yang satu ini saya amini, bagus donk. Iyalah sosial media memang cucok buat share hal baik dengan porsinya, info bermanfaat dan jualan (teteup, begini ini otak mantan pedagang, mantan sales MLM, dan yang empunya salah satu impian buat punya butik sendiri, otak dagang berkeliaran :p ).

Tapi berdagang di sosial media pun ada etikanya donk, gak asal nyepam apa posting dagangan sampai numpuk-numpuk dan menuhin timeline, jadi temen dan follower pun tetep asik, betul gak? Nah sama juga kalo mau curhat, yah...gak tiap hari juga keuleus. Gak usah terlalu lebay macam ababil, mau curhat ya curhat aja tapi ya mbok gak tiap hari dengan cerita sedetil mungkin, jadi malu yang baca hihihi...tapi begitulah adanya. Kebanyakan sih cewek, tapi ada juga yang cowok sampai geli bener bacanya, koq ya ada :D

Kata seorang temen sih, "sosial media isinya orang nyampah", ah totally i disagree! Bahasa nyampah itu memang kasar, tapi inget ada sampah organik dan sampah non organik, sampah pun bisa diambil manfaatnya contohnya buat daur ulang. Analogi saya sih gitu, jadi nyampah itu sah-sah aja asal nyampah pada tempatnya. Iya donk, buang sampah aja musti pada tempatnya, apalagi curhat. Kalau mau curhat yang dibaca semua orang ya nyampah aja seperti saya ini hihihi... kalo mau nyebut sampah sih, sukur-sukur bisa buat refleksi hehehe, nyampah segerbong kereta ditulis semua di blog wkwkw.. puas puas dah ni jempol ngetik, daripada disewotin orang disosmed, mending saya buka lapak sendiri :p

Iya, memang beragam alasan dengan beragam latar belakang masing-masing orang, tapi.....punggung saya udah koar-koar protes minta rebahan, sebenernya pengen curhat panjang tapi karena tidak memungkinkan mari kita bahas besok lagi, okesip...gud nite all.... :*

Tuesday, June 9, 2015

9 Days Road to Ramadhan

5:23 PM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Alhamdulillah sepertinya bulan Ramadhan semakin dekat, rasanya semakin bahagia hati ini karena pasti akan ada banyak kebaikan tertanam dan  ada banyak keburukan terpendam. Banyak orang mengatakan bahwa Ramadhan adalah "dojo", bulan latihan bagi kita dalam fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) dan saya sangat setuju akan hal ini. Jika kemudian ada banyak tradisi kirim broadcast message dan status untuk memohon maaf sebenarnya saya pribadi tidak mempermasalahkan ataupun mendukungnya. Kalaupun kita menjumpainya berbaik sangka saja semoga itu bukan hanya sebuah tradisi dan pemanis mulut melalui media sosial, namun memang itu murni dari hati untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan suci. Bisa dikatakan "hilang satu beban karena kekhilafan atau kedholiman kita pada sesama, sehingga kita bisa fokus beribadah kepadaNya di bulan puasa".  Yes,  saya ingin berfikir begitu.

Dalam 11 bulan sebelumnya, terutama dibulan Sya'ban Rasulullah SAW banyak berpuasa, hal ini memang bertujuan untuk melatih diri agar tidak berat melakukan ibadah puasa saat bulan Ramadhan. Karena memang puasa di bulan Ramadhan adalah wajib, maka bukan hal yang mengada-ada jika Rasulullah memberi teladan membiasakan diri berpuasa selama Sya'ban sebagai "bulan latihan", meski memang sebenarnya beliau sering berpuasa senin -  kamis atau ketika ayyamul bidh (tanggal 13 -  15 setiap bulan ditahun Hijriah).

Sementara untuk ibadah, ketaatan akan menjalankan perintah dan ketaatan menjauhi larangan, bersabar, istiqomah dalam kebaikan dan iman, dsb tentunya Ramadhan memang benar-benar "dojo", waktu yang sangat tepat untuk melatih menekan segala hawa nafsu terhadap dunia dan menguatkan iman dan keistiqomah dalam kesabaran dan keimanan. Karena memang sejatinya hidup dan taat kita bukan hanya untuk satu bulan. Berlomba-lombanya kita dalam kebaikan tidak hanya dalam 1 bulan kemudian di bulan berikutnya kita "kumat". Astagfirullah, naudzubillah... semoga Allah menjaga hati kita dalam ketetapan iman.

Masih kuat teringat apa yang disampaikan saat Ramadhan tahun lalu di masjid Sayyid Abdurrahman, "banyak orang-orang berlomba-lomba mengejar malam lailatul qadar di bulan Ramadhan, tapi lupa selama 11 bulan sebelumnya dia telah melakukan apa saja, lupa bercermin pantaskah dirinya memperoleh keberkahan malam lailatul qadar". Mak jleb rasanya. Langsung deh terbayang dosa-dosa sepele mulai mengulur waktu sholat sampai dosa yang bisa membuat fatal kita, menyakiti dan mendholimi orang lain. Benar Allah Maha Pengampun segala dosa kecuali menyekutukannya, namun bagaimana dengan kesalahan kita pada sesama?  Jika tanpa sengaja kita melukai hatinya karena status kita di sosial media, dengan ucapan kita di kolom komentar sampai hal yang paling sangat kita hindari, berselisih dan saling memusuhi dengan sesama, astagfirullah...


11 bulan yang lalu sebelum Ramadhan sudahkah kita benar-benar mentaatiNya dan menjauhi laranganNya? 
11 bulan lalu sudahkah kita istiqomah dalam kebaikan  dan kesabaran? 
11 bulan lalu adakah kita bersilaturahmi dan menyedekahkan rejeki kita di jalan kebaikan? 
11 bulan lalu adakah dosa kita pada Allah yang telah kita tebus dan kita memohon ampun kepadaNya? 
11 bulan lalu adakah orang lain yang tersakiti karena ucapan maupun perbuatan kita? 
11 bulan lalu adakah penyakit hati yang menyusup dalam hati kita? iri, dengki, berburuk sangka dan bahkan memfitnah orang lain? 
11 bulan lalu adakah kita cukup bersyukur dan tidak mengeluh akan apa yang diberi Allah?
11 bulan lalu, ya 11 bulan lalu, akankah kita mampu mengemis memohon keberkahan malam lailatul qadar setelah kita melihat semua yang kita lakukan 11 bulan lalu.

Allahulmusta'an, semoga Allah mengampuni semua dosa kita dan memudahkan  kita menyampaikan maaf pada sesama. Wallahu'alam

Rasulullah SAW bersabda : "tahukah kamu siapa orang yang muflis? (orang yang bangkrut). Sahabat menjawab : "menurut kami orang yang muflis adalah orang yang tidak punya dinar (uang)  dan tidak punya harta benda". Rasulullah bersabda : sesungguhnya orang yang muflis datang pada hari kiamat dengan membawa sholat, zakat dan puasa. Dia datang pernah mencaci orang ini, menuduh (hal tidak benar) pada orang ini, memakan (dengan jalan tidak benar)  harta orang ini, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang ini. Maka kepada orang tempat bersalah itu diberikan amal baiknya, dan kepada orang ini diberikan pula amal baiknya. Apabila amal baiknya habis sebelum hutangnya lunas, maka diambil kesalahan orang itu dan dilemparkan kepadanya dan kemudian dia dilemparkan ke neraka" (HR. Muslim) 
Naudzubillah.... 

Monday, May 25, 2015

Karena Semua Akan Berakhir

8:10 AM 0 Comments
Assalamualaikum...
Annyeong...
Ada rasa yang menyeruak pelan namun menenangkan dalam hati ini. Bukan karena sedang ketiban bulan atau sedang beruntung mendapat undian, namun hanya sebuah kedamaian saat menyadari bahwa semua pasti akan berakhir.

Disuatu masa, mungkin pernah kita terjepit dalam sebuah masalah. Membuat semua yang kita lakukan serasa tidak ada artinya dan stres berlebihan karena kekhawatiran. Apapun pasti akan kita lakukan demi keluar dari masalah itu. Adapula yang bersuka cita dalam euforia keberhasilan atau bahagia yang berlebihan karena apa yang telah kita capai. Saya rasa semua itu adalah hal yang wajar, sangat sering terjadi dan umum.

Namun pernahkah kita merenung atau sedikit menyadarkan diri bahwa setiap cerita dalam kehidupan kita akan berakhir dan akan berganti dengan sebuah cerita baru. Apakah itu sebuah cerita sedih atau cerita bahagia, pastinya akan berlalu dan membawa cerita baru dalam hidup ini. Seperti halnya dalam jenjang sekolah, bisa jadi kita selalu bahagia saat di bangku sekolah dasar, bangga dengan berbagai prestasi yang kita capai, namun satu hal yang pasti bahwa jenjang itu pasti berakhir dan suatu saat kita harus bertemu dan berjuang melawan orang lain yang bisa jadi lebih segalanya dari kita dalam jenjang sekolah menengah.

Itulah kehidupan. Yah, memang kehidupan bukan hanya tentang melawan dan saling bersaing. Namun disadari atau tidak sebenarnya kitalah yang sedang berjuang, bukan melawan atau bersaing dengan orang lain, melainkan melawan diri sendiri. Bisa jadi kita terlalu bangga saat kita berhasil mencapai sesuatu, sampai terlupa batasan antara bangga dan sombong. Padahal semua itu hanya penyambung cerita dalan tiap penggalan hidup kita yang nantinya akan kembali bersambung dengan cerita baru, entah cerita bahagia atau cerita duka.

Begitupula saat kita dilanda derita. Aih... seolah dunia sudah berakhir. Diputusin pacar, dikhianati, bangkrut, semua itu adalah cerita dan pasti akan berakhir. Satu hal yang saya ingin pelajari adalah membiasakan diri dan hati untuk tetap biasa menghadapi apapun yang terjadi. Sebuah hal wajar jika kita berbahagia dengan hal baik yang menimpa kita. Namun jangan lupa bahwa itu adalah nikmat Allah yang harusnya kita mengucapkan terima kasih padaNya dan terus berjuang untuk lurus menjalankan kewajiban padaNya dan menjauhi laranganNya. Karena syukur bukan hanya tentang mengucap terima kasih, namun juga tentang ketaatan kita. Masihkah kita mendekat dan taat kepadaNya disaat kita memiliki segalanya, karena sebuah kebaikan bisa jadi nikmat berikut ujian bagi kita.

Pun tentang keburukan. Adalah hal yang wajar jika kita bersedih atau bahkan menangis saat ditimpa musibah. Namun yakinlah bahwa setiap kebaikan dan keburukan yang yerjadi adalah dariNya dan pasti akan kembali padaNya. tetaplah menempatkan diri diposisi adil pada diri sendiri dan padaNya. Maksudnya tidak menyalahkan keadaan atau menyalahkan Allah. Karena sebuah keburukan yang menimpa kita bisa jadi akan menjadi motivasi bagi kita atau bahkan menjadi pengangkat derajat kita dihadapanNya. Keep calm, semua pasti berakhir. 


Takkan selamanya, tanganku mendekapmu
Takkan selamanya, raga ini menjagamu
Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti... 
Tak ada yang abadi... 

(Tak ada yang abadi - Peterpan)